World Open Karate Tournament I (1975)

Menjelang akhir 1975, Nardi menghadiri World Open Karate Tournament I yang diselenggarakan Kyokushinkaikan Tokyo Honbu. Kalau All Japan Karate Open Tournament diselenggarakan tiap tahun. Waktu itu Indonesia mendapat undangan dan diberi jatah 4 orang peserta. Maka dengan berbagai pertimbangan Perguruan mengirimkan 4 peserta terdiri dari: Richard H.Soesilo, R.A.Walewangko, George Rudy dan Djoko Slamaet Riadi. Sebagai team manager Patti Rajawane, Kepala Rombongan Bapak Kol.Moetijoso dan diikuti wartawan senior Sinar Harapan Bapak Max Karundeng.

Satu kejadian yang patut dicatat ialah; saat Richard Soesilo, karateka dengan berat badan sekitar 64 kg berhadapan dengan karateka Sato yang tinggi besar dan berbobot sekitar 90 kg. Pertemuan langsung ini sudah bisa dilihat sebelumnya pada Bagan Pertandingan. Karateka Sato ini ditargetkan untuk bisa menjadi juara dunia pada WOKT I ini. Nardi tahu benar Sato karena saat di Honbu tahun 1970 beberapa kali berlatih bersama sebagai karateka bertingkatan Kyu I,tinggi dan besar dengan wajah dingin tanpa senyum. Kuat phisik dan keras baik pukulan maupun tendangannya dan 1975 ini menyandang DAN III.

Tentu saja baik Nardi terutama Richard H.Soesilo merasa was-was dan tidak luput juga dari rasa gentar. Nasehat Nardi pada Richard hanyalah; karena kamu sudah siap phisik mental, maka bertandinglah tanpa beban. Lakukan dan usahakan sebaik mungkin demi nama baik Indonesia. Kalau sudah dilakukan maksimal, kalahpun tidak perlu disesali. Nasehat ini seirama dengan nasehat kepada para karateka yang ditunjuk untuk menghadapi karateka dari Singapore, Malaysia dan Australia pada tahun 1973 di Gelora Pancasila Surabaya dulu.

Apa yang terjadi? Pada saat Richard berhadapan dengan Sato diatas panggung, semua dari Indonesia berdebar debar dan was-was. Penonton yang 90 % Jepang sebagian terbelalak matanya melihat pertandingan yang sangat tidak berimbang dan sebagian lagi bersuara buuuu…huuu.! Laksana melihat David dan Goliath saja. Pertarungan ini pasti akan pincang, sudah bisa diduga oleh semuanya tentunya dari penampilan nyata ini. Pertandingan dimulai. Karateka Sato mungkin menganggap enteng lawan dari Indonesia ini dan melancarkan pukulan dan tendangannya bertubi-tubi. Richard bertahan dan tidak bergeming menghadapi serangan ini, beberapa kali Richard dipegang dan akan dibanting, gagal!

Akhirnya Richard juga mengerahkan serangan pukulan ke arah dada dan perut Sato. Tendangan ke kaki Sato membuat dia goyah dan menyeringai. Pertandingan jadi seru.Penonton memberi aplaus dan berbalik bersimpatik pada wakil Indonesia. Saling menyerang terjadi dan hebatnya Richard tetap bisa meladeni Sato yang jauh lebih besar itu. Kalau seandainya dinilai secara fair, walau bukan kemenangan dengan k.o., Richard berada diatas dan memenangkan perkelahian bebas ini.Tetapi Sato sudah ditarget untuk menjadi Juara Dunia pada WOKT I ini.

Sato sungguh terlihat nyata kewalahan menghadapi Richard dan tak mampu mengunggulinya. Pertandingan berakhir. Richard terlihat tetap percaya diri dan tenang. Napasnya tetap terjaga dan tidak terlihat kelelahan. Wajah Sato pucat dan terlihat agak emosi dan malu. Richard oleh perwasitan dinyatakan kalah. Master Oyama melihat dengan wajah heran dan kagum serta memandang ke Nardi sambil mengacungkan jempol. Kedua karateka turun sambil Sato merangkul pundak Richard. Penonton memberi aplaus panjang bersama-sama dan gedung gemuruh, semua ini adalah rasa kagum kepada Richard.

Sambil turun panggung Sato berkata:‘You’re a good fighter’. Diruang ganti, Sato tumpah-tumpah. Kalah, tetapi Richard membanggakan sebagai wakil Indonesia. Kejadian ini membuktikan bahwa semangat, mental dan rasa percaya diri itu sering membuat kita mampu berbuat diatas ketidak mampuan menurut logika.