IBU, WASPADAI PERUBAHAN SIKAP MENTAL DIRI SENDIRI

IBU
WASPADAI PERUBAHAN SIKAP MENTAL DIRI SENDIRI
 

Pada umumnya manusia tidak merasa bahwa telah terjadi perubahan pada dirinya yang berkaitan erat dengan sikap mental dan perilaku sehari hari. Terutama, jalinan dan ikatan bathin terhadap IBU yang sejak masa kecil sebagai pengayom dan pengasuh yang tulus ikhlas penuh kasih saying kepada diri kita. Kita tumbuh dari orok yang tak berdaya. Bermula dalam kandungan selama sembilan bulan tanpa sanggup berbuat apa apa kecuali mengharapkan mendapat jatah sari makanan yang terbaik dan sepenuhnya menggantungkan hidup dari perhatian serta kasih sayang seorang ibu.

Sadarkah diri kita saat sudah perkasa dan mampu berdiri sendiri bahkan bergelimang dalam kecukupan hidup tanpa butuh bantuan ibu lagi bahwa semasa kita masih di kandungan, saat baru dilahirkan kecil mungil tak berdaya, masa balita yang lemah belum berkempuan berarti selalu ibu ibulah yang siap siang dan malam menjaga kita dan bahkan sering dengan penuh pengorbanan tanpa mengeluh. Saat itu si balita sangat lemah dan rawan terhadap segala sesuatu yang tidak ramah disekitarnya.

Kita pasrah karena kesempatan untuk hidup dan tumbuh sepenuhnya berada ditangan ibu. Saat yang demikian itu, si orok khususnya sudah mampu menyuarakan tuntutan apabila yang dirasa tidak memenuhi selera dan membuatnya kurang nyaman dengan protes menangis keras dan terkadang meronta ronta sejadi jadinya. Sebaliknya menampilkan mimik wajah tak berdosa yang mencerminkan rasa puas, bahagia dan gembira apabila kebutuhannya terpuaskan sebagai tanda berterimakasih.

Menangis, merengek, meronta ronta saat lapar, saat basah, saat kotor dan kedinginan, kepanasan, digigit nyamuk dan semua yang dirasa tidak nyaman. Senyum dan kadang terkekeh kekeh saat gembira dan merasa puas. Dalam keadaan tak berdaya seolah olah kita sudah mulai mementingkan diri sendiri tanpa mampu dan bisa merasakan betapa sebagian besar ibu di dunia ini hidupnya amat sulit sehari hari. Penuh kesulitan serta kesengsaraan hidup, penderitaan lahir maupun bathin, masih juga terbebani hal lain yang menyiksa perasaannya tetapi tetap ikhlas merawat, mengasuh insan lemah tak berdaya ini. Ibu selalu dengan wajah penuh kesabaran serta kasih sayang disertai perhatian serta pengorbanan dan selalu berusaha menenangkan buah hatinya dengan segala daya upayanya.

Apa yang kita renungkan bersama ini adalah kehidupan di dunia pada umumnya. Bagian terbesar ibu kebanyakan hidup dalam kemiskinan, sengsara dan penderitaan. Belum lagi perlakuan kaum lelaki yang sering dan bahkan menambah siksaan bathin makin bertumpuk.

Kita tidak berbicara tentang ibu gedongan yang bergelimang dalam kecukupan dan kemewahan yang dengan gampang menyewa seorang baby sitter serta menyerahkan perawatan si mungil tak berdaya ini sepenuh pada pekerja bayaran dan tidak mau tahu problem mengurus anak kecuali mengurus dirinya sendiri. Untuk makan dan kebutuhan si orok tidak pernah mengalami problem seperti ibu kebanyakan. Melaui tilpon atau pesuruh, semuanya segera berdatangan dan tersedia lengkap. Yang kurang lengkap ialah tidak adanya jalinan kasih sayang antara ibu dan anak kecuali terikat oleh kewajiban dan bahkan mungkin karena keterpaksaan belaka !

Tidak sempat merawat anaknya yang seharusnya merupakan buah hatinya. Alasannya: Terlalu sibuk !

Tingkatan hidup serta kondisi seperti ini tidak sebanding dengan jumlah ibu di dunia yang hidup dalam kemiskinan, kesengsaraan, ketidak berdayaan, penderitaan serta penindasan dari pihak yang semestinya merupakan pendamping dan pelindung yang bisa diandalkan. Kenyataannya ?

Tidak seluruhnya. banyak juga ibu gedongan berkemampuan lebih dalam taraf hidupnya serta keintelektualannya tinggi, tetapi pandai dan cermat membagi waktu serta tetap menitik beratkan rasa cinta dan kasih sayang pada buah hatinya. Berbuat dan bertindak sebagai ibu sejati. Ibu yang mengabaikan kepentingan pribadi demi buah kasih sayangnya layaknya ibu sejati yang lain di dunia ini.

Demikian juga banyak suami dengan rasa tanggung jawab serta perhatian tinggi kepada istri dan anak anaknya. Tugas menyangga kebutuhan rumah tangganya sehari hari yang tidak ringan dengan segala kewajiban dan rasa tanggung jawab diimbangi sepenuhnya dengan sikap kasih sayang dan perhatian serta memahami dengan pengertian yang dalam betapa beratnya seorang istri dalam tugas sebagai pendamping suami dan juga sebagai pengasuh anak anaknya. Segala jerih payah istri terhibur karena dihargai dengan penuh cinta dan kasih sayang dari suami. Sadarkah kita, seandainya masa kita tergolek tak berdaya diatas pembaringan sebagai orok, lalu ibu hilang perhatian dan mengabaikan serta membiarkan diri kita selama 24 jam saja tanpa rasa kasih sayang dan perhatian ? Tangis kita karena rasa lapar, tangis kita karena rasa haus, tangis kita karena basah, tangis kita karena kotor dan kedinginan, gatal digigit nyamuk, pedih digigit semut tetapi tetap ibu tidak mau tahu, mengerti dan tidak peduli. Tiba tiba kita ditinggalkan dan kehilangan cinta kasih serta pengayoman ibu yang kita butuhkan dan dambakan.. Apa yang terjadi pada diri kita!
Betapa penderitaan yang kita alami tanpa daya itu hanya dalam waktu 24 jam saja.
Belum lagi andaikan kita ditinggalkan dan tak lagi diperhatikan serta disapa dengan rasa kasih sayangnya.

Betapa rasa sakit dan penderitaan yang dialami si orok dalam ketidak berdayaan ini.
Kepada siapa kita harapkan bantuan, mengadu dan merintih kecuali pada kemurahan hati pengayom utama kita yang mungkin masih mau menyadari dan tidak sampai hati menelantarkan asuhannya lebih lama lagi.

Tapi, manakala kita sudah dewasa. Sudah mampu berbuat apa saja yang kita inginkan, kita sukai serta kita maui. Kita sudah perkasa, tanpa ibupun kita sanggup hidup berlebihan dan mencapai kenikmatan dan kesenangan serta kepuasaan dunia. Lalu kita pura pura atau sengaja lupa akan ` ARTI SEORANG IBU ` ~ ` NILAI SEORANG IBU `. Ibu kita yang dulu selalu sanggup berkorban diri bahkan berkorban nyawa untuk melindungi dan membesarkan kita dengan segala rasa kasih sayang dan pengorbanan serta tidak pernah mementingkan diri sendiri.

Kita cari alasan dan kita korek serta kita teropong kekurangan, kesalahan dan kelemahan ibu kita. Kita sering terpengaruh keadaan sekitar dan terpengaruh, lalu lalai serta lupa akan Ibu yang dahulu juga kita perhatikan, kita cintai, kita sayangi, kita beri tegur sapa dengan manis.

Tiba tiba semua kebaikan terabaikan dan tersisihkan bahkan terlupakan, pura pura tidak melihat bahwa dipojok rumah seperti biasa ada seorang perempuan tua yang sangat mendambakan tegur sapa kita. Just say : `Hallo mama`. Tidak lagi pernah kita lakukan !
Kita seolah olah tidak mengenal lagi siapa yang duduk disana. Berbagai dalih dan alasan kita jadikan pembenaran diri atas kelakuan kita yang mungkin saja sebagian ada benarnya, karena sebagai manusia, siapapun tidak akan pernah lepas dari kekurangan dan berbagai kesalahan. Tetapi tidak perlu sampai terjadi perubahan drastis yang seolah olah merupakan ` punishment` terhadap ibu kita sendiri. Kalau ukuran dan takarannya adalah kekurangan dan kesalahan untuk dijadikan alas an menjauhi ibu kita sendiri, maka kita sebagai anak harus secara jantan mau mengaklui betapa tidak bisa dibandingkan jumlah kekurangan dan kesalahan yang telah kita lakukan dengan kekurangan dan kesalahan ibu serta segala jasa serta pengorbanannya selama kita dibawah asuhannya.

Kalau ada anak berani berkata; setelah dia mampu berdiri teguh diatas kakinya sendiri, lalu terjadi selisih faham dengan ibu lalu membentak: `Siapa yang minta aku dilahirkan !` Maka jelaslah; seorang anak yang berani berucap demikian itu layak disebut : Anak tidak tahu diri. Kasarnya : Anak durhaka ! Kalau merasa tidak pernah minta untuk dilahirkan dan menganggap tidak perlu dilahirkan, tidak perlu menghujat ibu dan ayah serta kebesaranNYA.

Mengapa setelah kita cukup berdaya dan bahkan sanggup melindungi diri sendiri lalu kita melupakan ibu kita yang kini berubah statusnya menjadi tak berdaya. Kalau dahulu kita tak berdaya karena factor usia. Kinipun ibu tak berdaya karena faktor usia.
Renungkan !

Seorang ibu yang baik tidak menuntut lebih. Dia sadar, anaknya bukan milik pribadi selamanya seperti saat dalam kandungan, orok, balita dan masa anak anak. Melainkan sudah menjadi milik kodrat manusia yang universal sesuai hukum alam. Yang didambakan seorang ibu hanyalah; perhatian dan rasa sayang dalam hubungan ibu dan anak. Bukan materi yang dipakai sebagai penggantinya walaupun materi juga tidak bisa secara mutlak diabaikan.

Kalau ada pemikiran atau ketidak puasan demi perbaikan yang ingin disampaikan pada ibu kita, dekatilah dengan rasa sayang dari hati yang tulus sebagai balas budi. Bukan dengan cara menjauhi penuh ketegaan hati yang beku. Ibu, demi rasa cintanya pasti akan rela mendengarkan kita. Setidaknya pasti berusaha mengubah sikap. Kalau belum seluruhnya, itu hanya soal waktu saja. Penyesalan tidak perlu datang setelah perpisahan abadi terjadi
IBU…….jangan pernah dilupakan.

o0o

(Nardi tn)