Member of Federasi Olah Raga Karate-Do Indonesia
SINCE 1967
MEDIA CETAK :

MENU
Silahkan klik pada tombol menu yang diinginkan:

pesan perguruan
article
event
curriculum
organization
forki
karate coach
black belt
merchandise
guest book
forum









































Nardi bersama Mas Oyama di dojo Tokyo Honbu.

















JANJI KARATE

Saya berjanji bahwa :

1. Saya akan berlatih dengan sekuat tenaga saya, dengan kemauan keras, berdisiplin dan dengan spirit yang tak tergoyahkan.

2. Saya akan mengikuti arti yang semurni-murninya dari seni pembelaan diri karate ini, dan dalam keadaan apapun saya akan selalu siap dan waspada.

3. Saya akan bersikap rendah hati, halus budi, menghormati orang lain yang pantas saya hormati, menghindari kekerasan dan tidak akan menodai nama baik seni bela diri karate ini.

4. Saya akan bertindak bijaksana, mencari kekuatan lahir bathin untuk tujuan mulia.

5. Saya akan berusaha sepanjang hidup saya melalui disiplin dan jiwa karate, bertindak ksatria dan dengan penuh rasa perikemanusiaan.

6. Saya akan membela mereka yang lemah tapi benar, dan akan menahan tindakan mereka yang berlaku sewenang-wenang dengan penuh kebijaksanaan serta menjauhkan diri dari tindakan berat sebelah.

7. Saya hanya akan mempergunakan kekuatan saya dalam keadaan terpaksa untuk membela kehormatan diri pribadi atau orang lain yang pantas saya tolong dan tidak ada jalan lain untuk menghindarinya. Serta tidak akan memamerkan seni bela diri karate ini secara tidak pada tempatnya.

SELESAI





























































































































































Th 1968. Berdiri di sebelah Shihan ( berdiri paling kiri), Senpei Hendro Wibowo. Warga pertama yang diberi latihan karate.





















































































































































































































































































































































Dari Kanan ke Kiri : Yan Okuyama, Atsushi Kanamori dan Nardi sendiri.









































































































































































HYMNE PERGURUAN

GO NO SEN GO NO SEN
S'mboyan kita karateka,
Tegak kuat dan perwira
Itu sifat karateka
Karate seni beladiri, bela keadilan
Karate seni beladiri, bela kebenaran
GO NO SEN GO NO SEN
S'mboyan kita karateka,
Teguh kuat dan ksatria
Itu sifat karateka
Itu sifat karateka




































Latihan bersama di luar dojo.































































































Pimpinan delegasi Singapore pada Kejuaraan Internasional I, 1973. Berdiri di tengah adalah Mr. Peter Chong. Segala bentuk tulisan dan gambar harap dikirimkan melalui Email : nardi_tn@yahoo.com

Shihan Nardi T. Nirwanto SA.

"Bertahan adalah sifat utama seorang Karateka, dan menyerang hanyalah karena terpaksa."

SEJARAH PEMBINAAN MENTAL KARATE KYOKUSHINKAI KARATE-DO INDONESIA 1967 - 2002


PERGURUAN mulai dirintis dengan hati-hati dan tekun di kota Kecamatan Batu – Malang, Jawa Timur oleh Nardi T.Nirwanto S.A. pada tanggal 7 Mei 1967. Tahun 1967 masih merupakan saat-saat penuh tantangan, curiga mencurigai satu sama lain masih mewarnai suasana Bumi Pertiwi ini, pergolakan masih terasa dan belum tercipta rasa ketenangan dan ketenteraman, apalagi keamanan di hati masyarakat Indonesia pada umumnya. Semua ini disebabkan karena Negara dan Bangsa Indonesia baru saja dilanda G – 30 – S PKI pada tanggal 30 September tahun 1965 yang sangat menggoncang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sela waktu dua tahun setelah peristiwa itu masih membuat suasana mencekam, dan trauma masih melekat pada sebagian besar rakyat Indonesia karena peristiwa tersebut. Saling tuduh dan saling fitnah terjadi dimana-mana sekedar untuk menghabisi baik karier maupun kehidupan lawan, khususnya yang tak sanggup membela diri. Korban berjatuhan dan mungkin banyak dari mereka yang tidak pernah ikut dalam urusan berpolitik ini terkena imbasnya. Sebagian besar hanya ikut-ikutan dan menjadi korban permainan para politikus dan petualang kesempatan. Rakyat sengsara karena merasa terombang ambingkan oleh gejolak yang tak menentu, menakutkan, mendebarkan dan sangat mengerikan.Tiada sedikit halangan dan hambatan yang sulit untuk dielakan, tantangan bermunculan menghadang benih yang masih muda dan lemah ini, yang mulai merayap tumbuh diantara semak dan tanaman liar dan bahkan belukar berduri yang berada dimana-mana saat itu. Namun dengan segala tekad dan rasa percaya diri penuh ketabahan, benih ini terus tumbuh menembus serta mengatasi segala hambatan yang muncul dengan silih berganti. Sejak awal mula berdirinya Perguruan, telah ditanamkan rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh diantara warga, khususnya para pemuda di Batu waktu itu. Perguruan menanamkan sikap tertib dan disiplin yang tinggi serta rasa tanggung jawab yang besar untuk menghadapi lingkungan dan masyarakat umum yang masih sangat sensitif. Kegiatan kelompok karateka masih merupakan hal yang belum biasa, awam serta asing saat itu, apalagi di Kota Kecamatan seperti Batu. Kegiatan ini dianggap sebagai unsur yang bisa menimbulkan keributan dan kekacauan yang sangat tidak mereka harapkan. Dunia kecil karateka belum bisa diterima oleh dunia besar masyarakat awam. Saat itu dengan segala daya upaya, Perguruan berusaha untuk bisa menyesuaikan diri dan diterima secara terbuka oleh masyarakat sekitar dan penduduk kota Batu khususnya. Maka lahirlah dua buah MOTTO Perguruan: KARATEKA MENGHORMATI MASYARAKAT, MASYARAKAT MENGHARGAI KARATEKA dan MOTTO berikutnya yang berbunyi: KARATEKA MENYESUAIKAN DIRI DENGAN LINGKUNGANNYA, BUKAN SEBALIKNYA.

Disusunlah JANJI KARATEKA yang merupakan pegangan utama bagi warga, baik di dojo (Ruang Latihan) maupun hidup ditengah masyarakat untuk bisa diterima secara wajar dan dihargai masyarakat karena sikap yang pandai menyesuaikan diri dan memang layak untuk dihargai.Hal yang demikian ini merupakan proses yang membutuhkan waktu dan pembuktian nyata. (Janji Karateka ini bukan terjemahan dari luar, tetapi murni disusun oleh Nardi sendiri).Tantangan ini harus dihadapi dengan kesabaran, perbuatan dan tindakan serta kelakuan terpuji ditengah- tengah mereka untuk menghapus kesan dan anggapan bahwa Karate dan Karateka adalah sesuatu yang identik dengan kegiatan dan kelakuan serta sikap yang berbau kekerasan, kekasaran dan membahayakan serta brutal. Pembauran terjadi secara alamiah melalui rasa pendekatan dan persahabatan dalam latihan dan kebersamaan diantara mereka. Kebersamaan ini membawa mereka bersatu tanpa mengenal perbedaan raas, golongan, tingkatan, suku dan agama. SARA tidak terjadi dan tak sedikitpun terdapat benih yang memungkinkannya untuk tumbuh. Suatu keharmonisan tercapai dan suasana kota Batu tetap tenang, damai dan bahkan bersih dari gangguan pemuda luar yang sebelumnya sering membuat gaduh dan mengganggu kaum muda setempat dengan keberingasannya. Bahkan beberapa pemuda dari luar kota yang mengalami gangguan pemuda brutal minta perlindungan ke rumah Nardi dan mereka aman saat meninggalkan kota Batu, karena ada rasa segan bagi si pengganggu. Mereka merasa tidak layak dan agak jera melanjutkan perbuatannya walau tanpa dihadapi dengan kekuatan melainkan dengan cara persuasif. Dalam masa yang singkat, banyak para remaja Batu berlatih dan bergaul bersama- sama dalam suatu bentuk wadah, yaitu Pembinaan Mental Karate, tutur Nardi memulai kisahnya. Berlatih bersama, berkumpul, bersahabat dalam satu wadah Pembinaan Mental Karate yang merupakan tempat penggemblengan phisik – mental spiritual yang terarah dan mempunyai tujuan baik serta meningkatkan rasa tali persaudaraan dan persahabatan akhirnya sanggup menghapus pertentangan-pertentangan pribadi yang sering menghinggapi jiwa para remaja. Kesan kebersamaan ini apabila terbentuk secara wajar akan terbawa sampai hari tua. Bibit yang tumbuh indah di kota desa ini ternyata dalam pertumbuhan Perguruan yang makin meluas tetap merupakan pola dasar pembinaan yang layak dipertahankan hingga masa jauh ke depan, sanggup memberikan hasil positif dalam ikut berpartisipasi membina dan mengarahkan para remaja menuju rasa persatuan dan kesatuan yang berwawasan nasionalisme dan mantap dijiwai rasa kebersamaan yang ‘Bhineka tunggal Eka‘. Dalam masa yang serba sulit sejak berdirinya Perguruan ini, tidak sedikit jasa Bapak R.Banoe Roesman Kartasasmita, Pembantu Bupati Kepala Daerah Tingkat II Malang di Batu. Beliau secara aktif mengayomi benih yang mulai tumbuh subur tetapi masih rawan terhadap berbagaipenyakit yang mungkin akan menyerangnya. Keadaan yang masih belum kondusif dan stabil ini mendapatkan perhatian beliau. Bapak R.Banoe Roesman Kartasasmita ikut mencangkuli tanah yang belum sepenuhnya subur, menyebar obat dan memberi pupuk serta perlindungan agar benih muda tumbuh dengan baik, aman tanpa gangguan dan sanggup membuahkan hasil positif. Beliau tertarik karena pada kenyataannya Pembinaan Mental Karate ini sanggup mengendalikan dengan terarah laju kedinamisan kaum muda yang sering agak melampaui batas kewajaran. Hal ini umum terjadi. Energi dan gairah yang berlebihan tanpa penyaluran yang berimbang akan menimbulkan ekses yang kurang baik. Oleh karena itu, kegiatan yang terpadu ini, setidak-tidaknya memberikan penyaluran yang berdampak positif sekaligus memberikan kesegaran jasmani rohani. Hingga usia ke 24 tahun Perguruan, sesuai jasa-jasanya yang tak terlupakan, beliau adalah sebagai Presiden Perguruan. Bapak R.Banoe Roesman Kartasasmita, meninggal dunia di Batu pada tahun 1991, satu tahun menjelang Peringatan Perak 25 tahun Perguruan, tahun 1992. Sungguh sayang dan merupakan suatu kehilangan yang amat dalam bagi Perguruan, mengingat dukungan beliau yang tulus.

Sejak usia muda, Nardi T.Nirwanto S.A. yang lahir di desa kecil Karangploso, Kabupaten Malang memang gemar akan berbagai olah raga. Ayahnya walau agak pendek dan kecil, cukup berotot dan gemar berlatih membentuk badan dan kekuatan otot melalui latihan yang intensif dan disamping itu juga gemar bermain berbagai alat musik sehingga hal ini berpengaruh pada putera puterinya yang sebagian senang berolah raga dan sebagian ke arah seni musik, walau secara sederhana dan tidak istimewa. Tapi jiwa gemar olah raga dalam pembentukan otot mengalir lebih dominan diantara putera puterinya. Mengenai olah raga, Nardi gemar akan renang, sepak bola, bulu tangkis khususnya dan body building yang dikembangkan oleh Charles Atlas dengan konsentrasi otot tanpa beban serta Angkat Berat oleh George Efferman sangat disenanginya serta mengikat minatnya untuk berlatih hampir setiap hari. Khusus metode Charles Atlas hingga kini masih dilakukannya karena dianggap tetap relevan dan sesuai serta sejalan untuk karate dalam hal pembentukan ketahanan, kelenturan dan kekuatan otot tubuh. Juga terutama untuk orang yang berusia lanjut karena tanpa pemaksaan. Terbentuknya memang lama, tetapi lama pula bertahannya, tidak seperti angkat berat, demikian berhenti berlatih, segera kemerosotan tampak nyata.

Tertarik akan Seni Beladiri Karate sudah dimulai sejak tahun 1957 saat masih duduk di bangku SMA. Master Oyama mulai membuka dojo sekitar tahun 1953 dan pada tahun 1957 sudah mempunyai beberapa ratus anggota. Keadaan ini diketahuinya kemudian saat membaca di salah satu majalah yang terbit di Tanah Air yang mengisahkan riwayat Grand Karate Master Masutatsu Oyama. (Mas Oyama). Perjuangan Mas Oyama aliran keras ini sangat memikat hatinya, karena sanggup mengangkat nama karate untuk bangkit kembali, khususnya ke Dunia Barat yang harus diakui merupakan titik strategis untuk pengembangan segala sesuatu agar bisa cepat mendunia.

Setelah perang dunia II,karate sangat merosot kepopulerannya. Karate dianggap dan dinilai sebagai seni tarian belaka dan Jujitsu yang oleh Prof. Jigoro Kano diilmiahkan sistimnya menjadi ilmu baru yaitu Judo. Dengan cara memodernisir tehnik -tehnik Jujitsu yang dahulu dikenal terlampau ganas, kasar dan keras tanpa kaidah-kaidah jelas, Judo semakin populer dan mendesak nama karate sebagai Seni Beladiri. Keadaan ini disebabkan karena karate terlampau dikebiri dan dihaluskan serta diarahkan secara berlebihan pada bentuk dan tujuan keolahragaannya belaka. Karate yang diolahragakan. Kegunaan karate sebagai seni beladiri makin tak tampak. Karate makin sering dicemooh sebagai seni tari belaka.

Mas Oyama dengan gaya dan sistimnya yang realistis dan rasional berhasil membawa karate muncul di permukaan kembali. (Baca Riwayat Mas Oyama). Hal ini disebabkan oleh realita dan pemikirannya; kalau dalam tinju lawan bisa saling menjatuhkan dengan nyata (K.O.), mengapa karate harus dengan bayang-bayang yang tidak nyata, sedangkan karate adalah Seni Beladiri sejak karate masih dikenal dengan nama Okinawa te, Naha te maupun Tomari te di Pulau Okinawa sebelum dibawa dan diperkenalkan Master Gichin Funakoshi ke Jepang sekitar tahun1923. Karate dikenal sebagai Okinawa Te.

Saat itu keinginan Nardi untuk berlatih dan memperdalam karate di Jepang sudah besar dan terasa menggebu, hanya kesempatan terasa tidak mungkin datang mengingat keadaan ekonomi keluarga mustahil bisa mendukungnya. Lagi pula, saat itu karate samasekali belum dikenal di Tanah Air. Mulai tahun1959 Nardi T.Nirwanto S.A.berkorespondensi dengan Master Oyama, dibantu Bapak Mas Agung dari Toko Buku Gunung Agung. Beliau bersimpatik dan membantu Nardi untuk mencarikan alamat Mas Oyama di Jepang karena yang diketahui hanya Ikebukuro, Tokyo dan beliau sering berkunjung ke Jepang dalam bisnisnya.. Beliau juga membantu menyelesaikan Membership Card Nardi pada KYOKUSHINKAI – KAN Tokyo Honbu dikemudian hari hanya karena rasa simpatiknya pada keinginan dan cita-cita pemuda yang dianggapnya langka dalam mengejar cita-cita dan karier hidupnya pada masa itu.

Berbagai buku Mas Oyama seperti What is Karate, This is Karate, Advanced Karate sempat dimilikinya dan dibaca serta dipelajarinya saat itu. Sebagian dari buku ini didapat sebagai bantuan dan merupakan pemberian pemilik Toko Buku Gunung Agung; yaitu Mas Agung sendiri yang sangat berbaik hati itu. Pada saat itu Toko Buku Gunung Agung yang terletak di Jl.Kwitang, Jakarta Pusat sangat terkenal dan merupakan satu-satunya Toko Buku paling top, lengkap dan representative. Dukungan ini memberikan rasa bahagia dan menambah semangat Nardi untuk lebih aktif dan bersungguh-sungguh.

Secara kebetulan pula dalam perjalanan mondar-mandir dengan Kereta Api antara Surabaya – Jakarta yang sering dilakukan sejak 1959 untuk membantu kakaknya yang tinggal di Jakarta, berdagang kecil kecilan dengan memanfaatkan perbedaan harga antara Jakarta dan Jawa Timur khususnya, terjalinlah persahabatan dengan A.Yoshida sensei yang mengenal Kyokushin Karate dan sejak itu memberinya petunjuk yang sangat bermanfaat sebagai dasar dan landasan kuat dikemudian hari. Semua ini juga karena jiwa Nardi sudah bulat untuk mendalami Ilmu Karate dan secara diam-diam Nardi berlatih dengan tekun dan bersemangat sesuai instruksi yang didapatnya. Petunjuk Yoshida sensei terasa sangat membantu latihan latihannya. Buku-buku Mas Oyama yang telah dimilikinya sejak beberapa tahun sebelumnya terasa sangat bermanfaat dan memberi tambahan petunjuk dan pengetahuan yang berguna sehingga Kyokushin Karate ini tidak terlampau asing bagi Nardi serta segala sesuatunya berjalan lancar dan terarah dan bisa diresapi maksud dan tujuan yang terkandung didalamnya. Banyak falsafah hidup yang diterimanya dari guru dan sahabatnya ini dan semuanya ini dikembangkannya. Permulaan tahun 1967, setelah hampir tiga tahun mencoba mendalami dasar dasar karate secara lahir bathin dengan tekun, disandangnya tingkatan DAN I, hasil penilaian dan kelayakan dari Yoshida sensei. Saat itu sumpah yang diucapkan adalah sebagai berikut: “Saya bersumpah bahwa saya akan taat akan segala instruksi yang berkaitan dengan karate, sekarang dan selamanya dan saya akan menanamkan semua itu kedalam hati setiap pribadi yang ingin mempelajari karate dari saya”.(sumpah ini dalam bahasa Inggris). Sumpah ini mempunyai arti yang dalam dan mengikat moral untuk tetap taat dan diamalkannya segala yang baik dari Seni Beladiri Karate ini. Walau pada usia muda berbagai olah raga digemari dan dipraktekkan, tetapi pilihan akhir jatuh pada karate dan falsafahnya dianggap paling sesuai dengan jiwa raganya sebagai ‘Way of Life’. Karate dengan kuat dilandasi falsafah hidup ‘BUSHIDO’ yaitu ‘JALAN SAMURAI’. Falsafah Bushido bukan satu satunya Falsafah Hidup yang terbaik, tetapi apabila kita pandai memilah-milah mana dan apa yang patut dijiwai dengan memetik intisarinya, maka telah terbukti bahwa falsafah ini membawa bangsa Jepang cepat bangkit dari kehancuran Perang Dunia II karena bangsa ini berpegang pada semangat Bushido. Inti sari Bushido sangat mendalam dan sesuai dengan sikap dan idealismenya Nardi sejak muda dengan apa yang tersirat didalamnya; yaitu: Mentalitas, Semangat, Pengabdian, tentunya dalam arti luas dan dalam, Loyalitas yang tidak membabi buta, Percaya diri sebagai modal utama manusia untuk maju, Perkasa tapi rendah hati (Bhirawa Anoraga – Semboyan Kodam VIII Brawijaya, Jawa Timur), Kehormatan Pribadi – Harga Diri yang merupakan dasar kuat manusia untuk tidak melakukan perbuatan amoral dan picik. Memang jalan hidup yang dipilihnya ini terdengar janggal, apalagi pada waktu itu. Pendiriannya ini sangat tidak lazim, menyimpang jauh dari cita-cita pemuda segenerasinya, tetapi itulah pilihannya dengan motivasi tinggi.

Berkorespondensi dengan Master Mas.Oyama dilanjutkan dan dilakukan secara tetap, lebih intensif dan teratur sejak 1961, jauh sebelum memperoleh kesempatan memperdalam Kyokushin Karate pada KYOKUSHINKAI - KAN TOKYO HONBU yang mulai secara nyata diresmikan oleh Mas Oyama sekitar tahun1964 di gedung baru yang sekaligus juga tempat tinggalnya di lantai teratas di Ikebukuro. Sekitar bulan Maret 1967, Nardi T.Nirwanto S.A. kembali menetap di Batu sepenuhnya yang sejak 1959 sering berada di Jakarta dan hanya kadang-kadang pulang ke Batu apabila keadaan memang perlu, sesuai dengan pekerjaan yang dijalaninya waktu itu dengan kereta api. Transportasi jarak jauh saat itu sangat sulit. Kereta Apipun demikian, bukan hanya dalam memperoleh tiket dan tempat, tetapi harus berebut tempat duduk walau telah memilki tiket apabila kurang pagi datang di setasiun. Barangkali kereta api pagi yang selalu datang terlambat dimalam hari, bermuatan hampir duakali kapasitas tempat duduk yang tersedia sehingga kamar kecilpun terisi penumpang. Kejadian seperti ini sangat umum saat itu. Dalam satu minggu sering dilaluinya jalur Jakarta – Surabaya – Batu hingga 2 – 3 kali. Sangat menguras tenaga dan melelahkan. Walau demikian Nardi bisa mengatasinya karena sejak masih amat mudapun sering bekerja berat dan keras karena keadaan jauh dibawah rata-rata keluarga lain yang lebih beruntung. Pada saat kelahirannyapun berada pada jaman hiruk pikuknya dunia, yaitu saat pecah perang dunia II tahun 1939, dilanjutkan dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia sekitar tiga setengah tahun yang banyak membawa penderitaan bagi bangsa ini. Jepang seolah- olah ingin secara tidak mencolok memusnahkan generasi tua bangsa ini dan lambat laun digantinya dengan generasi muda yang akan dikuasainya melalui ‘Brainwashing’ secara bertahap sehingga akhirnya condong setia membela dan mendukung kepentingan Jepang di Indonesia demi rencana jangka panjang, secara sistimatis. Apa yang dilakukan Hitler di Jerman saat itu membuahkan hasil. Kaum muda fanatik mendukungnya sehingga semboyan Deutchland Uber Alles berkumandang. Mungkin Jepang ingin mencontohnya untuk akhirnya menguasai Bumi Pertiwi dengan teriakan: ‘Hidup Saudara Tua, kami tetap setia’. Hingga akhirnya Jepang ditaklukkan Sekutu tahun 1945. Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya tetapi perjuangan melawan penjajah Belanda harus dilanjutkan lagi melalui perjuangan berat dimana kehidupan menjadi amat kacau dan mencekam.Nardi dan seluruh penduduk Karangploso terkena Politik ‘Bumi Hangus’, yaitu: Salah satu bentuk perjuangan dengan membakar habis segala harta benda dan segala fasilitas yang ada sebelum jatuh ke tangan musuh sehingga musuh tidak bisa mempergunakan fasilitas yang tersedia itu. Metode ini telah berlangsung sejak berabad lampau, salah satu yang terbesar ialah saat Napoleon Bounaparte beberapa abad yang lalu menyerbu Rusia dimana semua fasilitas di Ibu Kota dan sepanjang jalan dibumi hanguskan oleh pejuang Rusia saat itu, sehingga pasukan Napoleon menjumpai puing-puing belaka. Sangat menderita akibatnya dan menelan sangat banyak korban terutama dalam perjalanan balik di musim dingin yang dahsyat dan mencekam itu, lelah, kelaparan, frustasi dan masih harus menghadapi pengejaran dan penghadangan musuh. Inilah salah satu tujuan pembumi hangusan fasilitas-fasilitas yang ada tadi. Maka tahun 1947 Keluarga Nardi bersama seluruh penduduk keturunan harus mengungsi ke Batu setelah beberapa lama harus berada di penampungan dekat Karangploso tanpa bisa membawa harta sedikitpun kecuali untuk keperluan mendadak, habislah semuanya yang memang sudah sangat minim apa yang dimiliki keluarga sejak pecah perang dunia II, khususnya masa pendudukan Jepang antara 1942 – 1945 yang amat sulit. Masa revolusi dan perjuangan melawan Sekutu yang dijadikan alat untuk berlindung Belanda dengan mendompleng dibelakangnya tetap ingin mempertahankan penjajahan dan kekuasaannya di Indonesia. Nardi sejak lahir memang berada pada titik kulminasi era yang kurang menguntungkan, masa sulit yang silih berganti menghadangnya secara beruntun.

Pada tanggal 7 Mei 1967 adalah: Hendro Wibowo, Dwianto Setyawan dan St. Suprijadi adik kandungnya sendiri yang secara efektif diberikan latihan karate. Tanggal tersebut dijadikan tanggal kelahiran Perguruan. Semula ada rasa ragu pada diri Nardi, apakah kaum muda mau dan bersedia berlatih hal yang masih awam ini serta membutuhkan kemauan kuat dan semangat tinggi, karena berlatih karate bukan hal yang ringan kalau ingin mencapai hasil, harus penuh tertib disiplin diri yang tinggi dan bahkan menjemukan dan membosankan. Prinsip Nardi bahwa; lebih baik sedikit tapi mendalam daripada luas tapi dangkal, membuat orang sering merasa jemu dan jenuh sebelum ada hasil nyata yang dicapai. Nardi selalu bersemboyan bahwa segala sesuatu yang dicapai secara cepat dan mudah, maka juga akan cepat luntur dan mudah musnah sekaligus tanpa bekas, sebaliknya apa yang diperoleh dengan ketekunan sejati, hasilnya akan bisa bertahan lama dan bisa dinikmati. Ternyata dari ketiga remaja tersebut Hendro Wibowo sebagai orang pertama yang mulai diberi pelajaran dasar menunjukkan sikap dan ketekunan yang luar biasa, bersedia mengikuti dengan sungguh-sungguh dan bahkan diluar dugaan segala instruksi betapa beratnya. Hal ini memberikan rasa percaya diri pada Nardi bahwa masih ada remaja yang dengan sepenuh hati bersedia mengikuti segala petunjuknya dalam berlatih dasar-dasar karate. Keadaan ini menggerakkan semangatnya yang sejak semula memang bercita-cita agar karate ini bisa disebar luaskan diantara generasi muda pada saat yang tepat nanti. Nardi mulai berkonsentrasi dan mempersiapkan diri lahir bathin.

Maka pada tanggal 7 Mei 1967 tersebut, dimulainya latihan secara terjadwal dengan bertambahnya dua remaja yang lain tadi, kegiatan latihan ini merupakan benih berdirinya Perguruan sehingga untuk beberapa saat hanya tiga orang ini yang diberi latihan secara intensif dan terprogram. Mulailah babak baru dalam merealisir cita-citanya. Dari tiga orang pemula ini, setelah latihan berjalan selama dua bulan baru mulai dibuka pendaftaran untuk umum. Ternyata ajakan ini sangat diminati kaum remaja di Batu dan hingga akhir 1967 telah berlatih sekitar 150 remaja dan pemuda bahkan orang dewasapun tertarik untuk ikut didalamnya dan resmi terdaftar sebagai anggota benih Perguruan ini. Mereka berlatih dalam tiga gelombang yang padat dengan waktu latihan tiga kali seminggu, yaitu: Senin – Kamis, Selasa – Jum'at dan Rebo – Sabtu dari pukul 16.00 hingga pukul 19.00. Mereka ternyata amat bersemangat mengikuti segala instruksi yang diberikan, berlatih keras dengan disiplin tinggi, tertib dan sekaligus menjaga nama baik benih Perguruan ini yang saat itu bernama: ‘PEMBINAAN MENTAL KARATE – GO NO SEN’, ditengah masyarakat Batu khususnya dengan rasa tanggung jawab tinggi, kompak dan erat ikatan satu sama lain.

Makin besar hasrat dan keinginan Nardi TN. untuk bisa memperdalam Kyokushin Karate ini pada SPECIAL BLACK BELT COURSE FOR INSTRUCTORS di KYOKUSHINKAI - KAN INTERNATIONAL KARATE ORGANIZATIONS Tokyo Honbu sesuai dengan harapan dan saran Master Oyama, tetapi kesempatan ini terasa sulit terwujudkan karena terhalang pembeayaan yang cukup besar tentunya dengan segala persyaratann berat yang harus ditanggungnya. Keterangan ini diperoleh Nardi dari pemberitahuan rekan di Tokyo dan Nagoya, yaitu Yan Okuyama dan Atsushi Kanamori yang keduanya dikenal melalui korespondensi yang sudah dilakukan sejak beberapa tahun. Yan Okuyama adalah mahasiswa dari Bogor yang masih keturunan orang Jepang dan Atsushi Kanamori sensei adalah seorang guru dan pernah bertugas dan mengajar di Manado, Sulawesi Utara pada masa pendudukan Jepang di Indonesia sehingga bisa menulis dan berbahasa Indonesia walau tidak sempurna. Keduanya dikenal Nardi secara kebetulan dan secara teratur melakukan hubungan surat menyurat. Akibat hubungannya melalui korespondensi yang demikian lama dan teratur dengan Master Oyama, menyebabkan Nardi sedikit banyak mengerti, mengenal dan memahami karakter dan jalan pikiran Master Karate ini dalam sikap dan sifat pribadinya walau tidak sepenuhnya. Selama tahun 1967 hingga permulaan tahun 1970 Perguruan kecil ini sudah sempat berkembang ke Malang dikalangan para Mahasiswa, Pusdik Arhanud Karangploso, Surabaya, Pasuruan dan Probolinggo. Nardi dibantu anggota senior. Karena belum memperoleh keresmian dari Induk Organisasi di Tokyo Honbu, maka nama Perguruan tetap PEMBINAAN MENTAL KARATE – GO NO SEN. Go No Sen berarti secara sederhana:Bertahan adalah menyerang. Defensive is offensive atau secara lebih luas: Bertahan adalah sikap utama Karateka dan menyerang (membalas) hanyalah karena keterpaksaan. Karateka mendahulukan sikap menahan diri dan bertahan diri. Perguruan yang masih muda ini terus memantapkan diri terutama dalam ketertiban dan kedisiplinan baik kedalam dan terutama keluar sehingga segera memperoleh kepercayaan dari masyarakat dan meluas. Beberapa anggota senior ikut membantu penyebaran ini walau saat itu tingkatan mereka masih lower class istilahnya, tapi karena sikap mental dan semangat tinggi yang ditampilkan, bertanggung jawab, tertib dan disiplin dalam menjalankan tugasnya, cukup disegani dan dipercaya dimana mereka bertugas. Saat itu tingkatan mereka tidak lebih dari Kyuu 4 sabuk hijau. Nardi selalu membedakan pengertian ‘tertib’ dan ‘disiplin’. Sebelum seseorang bisa berdisiplin diri, maka pada umumnya harus mengalami masa ‘tertib’ dahulu, berarti dirinya dilingkari berbagai peraturan, ketentuan, pengawasan dan pengarahan langsung dan bahkan beberapa pemaksaan terhadap beberapa jenis kebandelan. Manakala semuanya ini telah meresap dan sudah diterimanya secara utuh, maka timbul dan berkembanglah rasa ‘disiplin‘ pada dirinya. Disipilin tidak lagi membutuhkan pengawasan dan pengarahan apalagi pemaksaan karena memang sudah tumbuh dari hati sanubarinya dan sudah menjiwai dan dijiwai rasa tanggung jawab atas segala perbuatan dan gerak langkahnya. Inilah disiplin yang nilainya amat tinggi. Disiplin diri pada dasarnya tumbuh dari dalam dirinya sedangkan tertib datang dari luar dirinya.

Tahun 1970 Nardi berkesempatan dan bertekad pergi ke Jepang untuk merealisir cita citanya, memperdalam Kyokushin Karate pada Special Black Belt Course For Instructors di Tokyo Honbu karena pada saat itu seorang warga pertamanya, yaitu Hendro Wibowo akan pergi belajar ke Jerman Barat dan dari bantuan tabungan Hendro sendiri, dari ayahnya dan juga dari pamannya di Semarang yang pas-pasan untuk sampai Singapore, Nardi memberanikan diri berangkat menuju Tokyo dengan melawati Singapore bersama Hendro Wibowo sekaligus untuk menjumpai perwakilan Tokyo Honbu di Asia Tenggara, yaitu Mr. Peter Chong. Tekad ini dijalaninya karena ada janji bahwa nanti di Singapore saat Hendro melanjutkan ke Jerman Barat, akan terkumpul bantuan dan dukungan untuk melanjutkan perjalanannya ke Tokyo, Jepang.

Saat Hendro Wibowo melanjutkan perjalanannya ke Jerman Barat setelah kurang lebih tinggal di Singapore hampir sepuluh hari, Nardi tidak bisa langsung menuju Tokyo, Jepang dan tertunda di Singapore karena kiriman dana untuk perjalanan dengan pesawat tidak segera datang dan terpaksa tinggal di jalan St.Francis Road No.88 Singapore untuk beberapa saat sambil ikut berlatih di dojo Mr.Peter Chong yang terletak di lantai bawah. Kengerian dan kegelisahan sudah mulai menghinggapi Nardi, kuatir rencananya kandas dan gagal dan harus kembali ke Tanah Air dengan tangan hampa. Tinggal di Singapore, tertunda keberangkatan menuju Tokyo untuk bisa ikut berlatih pada Latihan Khusus Black Belt Course For Instructors Tokyo Honbu merupakan siksaan bathin tersendiri karena hal ini akan merupakan pemborosan waktu yang pada hakekadnya sangat bernilai tinggi. Disamping waktu, juga biaya akan membengkak padahal tujuan utama adalah Tokyo Honbu dan keadaan keuangan yang sempit serta janji dana dari Tanah Air sangat tidak berketentuan. Keadaan diperburuk karena Mr. Peter Chong sebagai perwakilan Kyokushinkai-kan untuk Asia Tenggara kurang dan bahkan samasekali tidak mendukung rencananya, keinginan dan cita-cita Nardi memperdalam Kyokushin Karate di Tokyo Honbu. Hal ini sejak semula memang sangat terasa. Dalam keadaan terkatung-katung ini tiada harapan lain yang bisa membantunya kecuali kebesaran dan kemurahanNYA. Nardi percaya hal ini akan terjadi walau sebagai manusia biasa tidak akan lepas dari kelemahan dan kekurangan tetap masih merasa was was ! Apa yang diharapan dan dicita-citakan terasa makin jauh. Dana yang dijanjikan dari Indonesia terus meleset dari jadwal yang telah direncanakan sedangkan sedikit dana yang terkumpul dari hasil anggota yang berada di Tanah Air tidak mencukupi. Latihan di Singapore terasa tidak membawa dan memberi manfaat karena disiplin yang rendah dan tidak terarahnya latihan serta kurang berbobot. Di Indonesia waktu itu, latihan lebih tertib dan disiplin, mantap terarah dan bergairah penuh semangat. Keadaan ini memberi pukulan yang luar biasa pada bathin Nardi dan terasa sangat menyiksa. Beberapa minggu di Singapore terasa laksana beberapa bulan karena rasa kejenuhan yang terus melilit didalam jiwa raga dan semangatnya makin merosot, tetapi dengan tabah selalu dicoba untuk mengatasinya. Betapapun besarnya cita cita ke Tokyo Honbu tetapi rasa rindu rumah ( home sick ) dan juga kepada anggota yang ditinggalkannya besar sekali. Maklum, baru pertamakali berada seorang diri di luar negeri dalam keadaan amat sulit. Pengalaman sejak 1959 hingga sekitar 1967 berada di Jakarta membantu dan memperkuat diri dan bathinnya pada saat berada di perantauan ini walau terasa sangat menyiksa.Akhirnya, setelah sekitar dua bulan berada dalam penderitaan lahir bathin di Singapore, ada kabar gembira bahwa dana untuk ke Tokyo segera dikirim. Akhirnya dana yang ditunggu-tunggu dengan kecemasan dan kebimbangan datang tetapi membuat rasa kecewa makin dalam, bukannya tidak berterimakasih akan apa yang didapatnya tetapi karena dana ini hanya cukup untuk one way ticket, sekali jalan. Keadaan ini pasti merupakan salah satu halangan untuk bisa melanjutkan perjalanan serta belajar dan tinggal di Jepang karena saat itu peraturan mengenai menetap dan belajar di Jepang sudah demikian ketat. Jepang tidak mau berisiko dengan menanggung beban bagi pelajar bidang apa saja yang akan mengikuti pendidikan di Negeri Matahari Terbit ini, dimana ada kemungkinan siswa tersebut harus dikembalikan atau kembali ke Tanah Air karena satu dan lain alasan serta penyebab yang tidak terduga sebelumnya dan tidak ada dana untuk kepulangannya. Karenanya, syarat ‘retour ticket‘ mutlak harus bisa ditunjukkan dan dipenuhi dalam mengurus perijinan pada kantor Imigrasi setempat sebelum berangkat ke Jepang, apalagi harus diurus di Singapore. Nardi nyaris putus asa dan frustasi sebagai seorang pemuda yang sangat tidak berdaya saat itu.

Kepergian Nardi ini memang atas tekad dan inisiatif pribadi. Dari keterangan Kantor Keimigrasian Jepang di Singapore telah didapat keterangan yang lengkap dan jelas,yaitu: Untuk belajar dan menetap di Jepang diperlukan ‘retour ticket’ yaitu tiket pergi pulang Singapore – Tokyo dan Tokyo – Jakarta. Adanya Bank Guarantee pada salah satu Bank di Tokyo atas nama Pemohon / Penjamin dan Surat Jaminan dari Perwakilan di Singapore atau dari Tokyo Honbu. Persyaratan ini sungguh sangat berat dan mustahil bisa terpenuhi. Rasanya rencana ini akan gagal total. Mr. Peter Chong melihat kesulitan ini tidak terlihat perduli dan tidak memberikan reaksi sedikitpun apalagi bersedia memberi bantuan atau Surat Jaminan. Malahan dalam kesulitan yang hampir tak teratasi ini Mr. Peter Chong menawarkan pada Nardi agar tidak perlu ke Tokyo Honbu. Tetap di Singapore saja sebagai Asistennya dan memperoleh bagian tiap bulan dari hasil dojonya.‘I will share with you’ katanya. Nardi menolak tawaran ini dengan halus. Tawaran ini merupakan cara halus untuk menahan rencana Nardi melanjutkan perjalanan ke Tokyo Honbu. Nardi sadar bahwa rencana ini apabila berhasil akan meredupkan posisinya di Asia Tenggara. Hal inipun disampaikan oleh Sekretaris Pribadinya (Mr.St.L.) yang amat bersimpatik pada Nardi. Ajakan ini dijawab Nardi dengan ramah, berterus terang dan ucapan terimakasih. Dijelaskannya cita-cita dan keinginan Nardi pergi memperdalam ke Tokyo Honbu adalah bukan semata-mata bersifat petualangan pribadi dan coba-coba, tetapi didorong cita-cita yang dalam dan sejak lama terpendam di dalam bathinnya serta merupakan misi dari staf di Indonesia bersama seluruh warga yang sangat mendambakan keberhasilannya. Keinginan untuk memenuhi harapan para senior dan pendampingnya ini terutama sejak mulai Perguruan berkembang, oleh rasa tanggung jawabnya terhadap anggota yang menunggu di Indonesia dengan penuh harapan tidak bisa diabaikan begitu saja.. Saat itu Perguruan sudah berusia sekitar tiga tahun dan sudah meluas di Jawa Timur dan mulai menarik simpatik masyarakat luas. Warga dimanapun dalam keadaan apapun berani mengucapkan salam karateka ‘Oss‘, singkatan dari kata ‘Oshi Shinobu‘ sebagai salam para karateka dimanapun berada dan dipakai serba mengena untuk berbagai keperluan diantara para karateka (baca buku catatan) yang ditelinga masyarakat awam saat itu masih terasa aneh dan janggal sehingga sering dicemooh dengan kata kata os os os!.Tetapi warga tetap tegar dan salam ini tetap berkumandang dimanapun berjumpa dengan sesama karateka dan para seniornya selain di dojo saat latihan. Akhirnya masyarakat menyadarinya dan menghargainya. Kembali ke masalah ajakan Mr. Peter Chong; mendengar jawaban Nardi itu wajah Mr. Peter Chong berubah agak memerah, sejak saat itu juga Mr. Peter Chong jarang bermuka ramah apalagi mau bercakap cakap pada Nardi seperti sediakala. Sikap tak perduli makin terasa dan berusaha untuk menghindari Nardi kecuali dalam keadaan terpaksa.Teman teman berlatih banyak yang membuat Nardi tenteram karena masih ada pribadi yang memahami keadaannya yang sulit dan serba terjepit ini.

Nardi makin merasa tertekan dan tak berdaya sedangkan kiriman dana dari Tanah Air untuk keperluan sehari hari, membayar sewa kamar, biaya latihan dan biaya hidup yang tidak ringan sering datang diluar jadwal yang telah ditentukan apalagi dana untuk tiket pesawat yang mencukupi. Untuk makan sehari hari Nardi sering mendapat bantuan dari teman yang berada di kamar sebelah yang hampir setiap pagi selalu menyediakan sarapan dan makan sebelum pergi kerja karena menyadari kesulitan yang dihadapi Nardi kala itu dan Madam N pemilik rumah yang memang menerima Persewaan Kamar baik untuk karyawan maupun pelajar dan umum ini adalah seorang yang keras, tegas dan disiplin dalam menjalankan ketentuan dan peraturann di tempat kostnya, toch bisa menyadari keadaan Nardi atas keterlambatan pembayaran uang persewaan kamar, bahwa; keadaan ini bukan karena kelengahan dan sikap seenaknya dalam menyelesaikan kewajibannya, tetapi semata-mata karena memang pengiriman dana dari Indonesia yang terlambat dan tahu betapa gelisahnya Nardi sehingga merasa iba juga. Toleransi diberikan penuh untuk semua ini dan Nardi sebagai pihak yang tidak berdaya berusaha selalu bersikap sebaik mungkin. Madam N yang sehari-hari agak bersikap angkuh dan tidak gampang bergaul secara terbuka malahan beberapa kali mengundang Nardi makan bersamanya dan selalu bersikap ramah, padahal penghuni lain terlambat satu – dua hari saja dalam membayar sewa kamar sudah membuat Madam marah-marah. Ini semua malahan membuat Nardi merasa sungkan kepada penghuni yang lain melihat janda berusia 65 tahun yang biasanya kurang bersahabat ini bersikap lain kepada Nardi. Hal yang luar biasa yang barangkali karena Yang Maha Pemurah diatas merestui dan meringankan beban penderitaan anak manusia yang mengalami masa sulit ini untuk bisa bertahan menghadapi halangan yang hampir bisa dipastikan membawa kegagalan dalam mencapai keinginannya, sehingga orang lainpun berbelas kasihan dan membantu dengan nyata tanpa pamrih. Suatu kejadian yang sangat meringankan keadaannya.

Suatu hari terjadi peristiwa yang sangat mendebarkan, betapa tidak!. Untuk membeli makanan sehari hari saja sering mengalami kesulitan karena terhalang dana yang tidak mencukupi. Untuk penghematan maka di dalam kamar tersedia alat pemanas kecil sederhana dan bahan bakar spiritus yang digunakan untuk memasak bahan instant sehari hari daripada membeli makanan diluar yang pasti lebih mahal. Suatu hari, tiba tiba, tanpa sengaja botol berisi spiritus tersebut terdorong dan isinya tumpah. Segera secepat kilat api menjilat tumpahan bahan bakar yang sangat disukai api itu yang terletak tidak jauh dari tempat pemanas itu. Karena panik, Nardi mencoba memadamkan kebakaran ini dengan segera tetapi jilatan api malahan memercik kesegala arah laksana meloncat kesegala sudut ruang dalam bentuk kobaran kecil kecil. Kasur spons tempat tidur segera terjilat api dan baju Nardi yang tergantung didindingpun tak luput dari keganasan api dan segera terbakar karena memang terbuat dari bahan yang tipis dan mudah terbakar pula. Nardi tidak sempat menangani baju tersebut karena terpaku untuk menyelamatkan kasur tempat tidurnya yang merupakan inventaris kamar walau sadar, disaku atas baju tersebut ada uang terakhir yang dimilikinya untuk keperluan sehari hari sebesar S $ 10.00 dan yang mengherankan, walau baju itu segera musnah dilalap si jago merah tapi api berhenti dan padam disekitar saku baju dan uang S $ 10.00 terselamatkan. Sungguh luar biasa ! Kerusakan yang terjadi didalam kamar ini dengan hati takut yang luar biasa karena merasa bersalah, segera dilaporkan kepada Madam N. Yang lebih aneh lagi, walau hal ini merupakan pelanggaran yang sulit ditolerir, mempergunakan api dan memasak didalam kamar tidur dengan spiritus, dimanapun dilarang dan sangat berbahaya, Madam tidak menjadi marah dan hanya berpesan jangan dilakukan lagi. Semua dianggap selesai. Kasur diganti yang baru beserta kain penutupnya. Madam benar-benar terlihat terlalu bertoleransi dalam memberikan perlakuan istimewa pada Nardi. Bukankah ini agak luar biasa. Tuhan Maha Besar dan Penuh Kasih selalu melindungi perjalanan Nardi yang penuh percobaan seperti yang terjadi dikemudian hari.

Tiada jalan lain bagi Nardi setelah menunggu lebih dari dua bulan dana tetap tak kunjung datang serta tidak ada kepastian, maka Nardipun harus memilih satu diantara dua pilihan yang amat sulit dan menentukan kelanjutan jalan mencapai cita-citanya. Kembali ke Indonesia dan membawa kekecewaan bukan bagi dirinya saja tetapi dan terutama akan sangat dirasakan para pelatih pembantunya yang sudah dengan tekun dan dengan harapan penuh menginginkan Nardi bisa membawa hasil demi kemantapan Perguruan dari hasil yang dicapainya di Tokyo Honbu. Lagipula anggotapun sudah mengetahui dan ikut bangga sekiranya tujuan dan cita cita panutannya bisa terlaksana dengan baik berupa hasil yang pasti bisa dikembangkan dan lebih berbobot setibanya di Tanah Air.

Tekad kedua yang merupakan usaha tidak mudah yaitu; terus berusaha untuk bisa merealisir cita-citanya semula dan harus bersabar. Memang tidaklah berlebihan bahwa cita-cita yang sulit dan berliku-liku ini untuk mencapainya hanya bisa berhasil apabila memperoleh bantuanNYA yang luar biasa. Nardi tidak lupa mohon pada kedua orang tuanya di Indonesia untuk selalu berdoa baginya agar sanggup bertahan dan menembus segala rintangan yang tidak mungkin teratasi tanpa ada sesuatu yang diluar kemampuannya. Hal ini sangat disadari Nardi karena kemustahilan yang makin nyata tetapi bagaimanapun apabila kehendakNYA memang berkenan, maka berbaliklah segala kesulitan ini menjadi kesuksesan dan keberuntungan akan berpihak kepadanya, walau terhadap hal yang muskilpun.

Hampir setiap pagi sebelum kantor Kedutaan Jepang dibuka, Nardi sudah menunggu di pintu masuk. Saat Kantor Imigrasi dibuka Nardi selalu berusaha ingin menjumpai Kepala Bagian Imigrasi yang berwenang dan dikenal sebagai Mr.Wong (Mr.Oey), seorang berkewarganegaraan Singapore yang bertugas di Kedutaan Besar Jepang di Singapore, tetapi tiap kali gagal. Nardi tidak berputus asa dan setelah dijelaskan maksud dan tujuan berkali kali mengapa ingin menghadap bagian Imigrasi, tetap ditolak. Nardipun tetap tidak berputus asa, karena didorong semangat untuk bisa berhasil walau kesempatannya amat sempit. Tanpa jemu dan putus asa didatanginya lagi dan lagi Kantor Imigrasi yang terletak di Gedung Kedutaan Jepang ini dan setelah sekian kali ada keajaiban terjadi. Pegawai Kantor Imigrasi memanggil Nardi dengan tangannya dan malahan menyuruh minggir mereka yang sudah antri menunggu giliran dan minta agar Nardi segera menulis data di kolom formulir yang sudah tersedia khususnya segala maksud tujuannya pergi ke Jepang. Setelah formulir terisi sesuai dengan kolom-kolom yang tersedia dan dikembalikan kepada Pegawai tadi, tidak lama Nardi dipanggil lagi dan dipersilahkan masuk ke Kantor Kepala Imigrasi dan diterima Mr.Wong dengan ramah. Tanya jawab terjadi dan setelah puas, Mr.Wong masuk untuk memberi laporan kepada Duta Besar Jepang di Singapore dan keajaiban utama terjadi tanpa terduga. Dengan muka berseri Mr.Wong menyampaikan kabar istimewa dan menggembirakan. Nardi diberi ijin tinggal dengan segala kekurangannya selama enam bulan di Jepang dan bisa diperpanjang apabila diperlukan. Suatu yang luar biasa telah terjadi. Ini semua dirasa oleh Nardi hanya karena bantuanNYA. Kegembiraan yang tak terucapkan. Titik-titik air mata tak terbendung. Rekan-rekan di Singapore dan bahkan Mr. Peter Chong tampak keheranan waktu mendengar cerita Nardi dan Nardipun mempersiapkan segala keperluan untuk segera berangkat ke Tokyo dan semuanya berjalan dengan lancar. Pertama Nardi menghubungi Tokyo Honbu memberitahu akan kedatangannya. Menghubungi melalui telegram Sdr.Yan Okuyama yang tinggal di Tonan Asia Gakusei Ryuu di Ikebukuro dimana Tokyo Honbu terletak tidak jauh dari situ, dipimpin Pendeta Katoh. Juga dihubunginya Atsushi Kanamori sensei di Nagoya. Hari keberangkatan pun tiba. Malamnya oleh rekan-rekan berlatih diadakan santap malam perpisahan. Mr. Peter Chong juga hadir dan diundang. Tidak sepatah katapun ….….......…. membisu……………..keluar darinya kepada Nardi, malahan pada saat pulang dan turun dari mobil, segera Nardi mendekatinya untuk menyampaikan ucapan selamat tinggal, belum sempat mengulurkan tangan, Mr.P.Chong sudah berbalik muka dan meninggalkan Nardi masuk rumahnya. Warga senior tampak kaget melihat adegan ini.

Keberangkatan Nardi keesokan hari ke Changi Airport dijemput dan diantar Mr.Wong dari kantor imigrasi dan masih sempat sarapan pagi ditengah jalan sekedar bisa berbincang-bincang. Di Airport telah menunggu salah satu rekan diluar karate, yaitu Mr.Lee Yun Seen, seorang Sarjana Kimia dari Malaysia yang bekerja di Singapore dan tidak seorangpun dari rekan berlatih yang terlihat apalagi Mr.Chong sendiri, padahal hari itu adalah hari Minggu. Jalan terbuka sudah. Suatu kejadian yang luar biasa. Bagi orang yang mampu dan cukup dana, kejadian ini bukan sesuatu yang luar biasa karena mereka tidak akan menghadapi kesulitan yang demikian rumit dan bertele tele, tetapi bagi Nardi yang sejak semula memang samasekali dirinya tidak berkemampuan dalam bidang finansiil, kejadian ini hampir merupakan suatu keajaiban. Dispensasi langsung dari Kedutaan Besar Jepang (Duta Besar) yang diberikan kepada seseorang tidak mampu tanpa adanya jaminan apapun hanya bisa terjadi karena kasih Tuhan yang sanggup merealisir cita cita yang hampir mustahil menjadi kenyataan. Nardi makin yakin, jalan telah terbuka dan doa orang tuanya di Tanah Air telah membantu membawa hasil yang sulit dibayangkan bisa berhasil melalui tekad yang kuat dan bersungguh sungguh dan pengayomanNYA.

Tiba di Haneda Airport Tokyo sekitar pukul 22.00 waktu setempat benar benar dirinya merasa asing dan sendiri tetapi bahagia. Kunci menuju sukses terasa sudah berada di sakunya. Dengan membawa dua koper yang agak besar setelah menunggu beberapa saat, berjalan agak gontaikarena beban yang berat. Maklum orang desa serta baru pertamakali pergi keluar negeri untuk belajar, selalu condong untuk membawa keperluan berlebihan, demikian juga dengan dirinya. Di bagian pengecekkan barang sebelum pintu keluar, petugas memandang ke wajah Nardi karena melihat kedua koper yang cukup besar dan berat dan memintanya agar dibuka untuk pemeriksaam. Baru saja tas dibuka petugas bertanya apa tujuan datang ke Jepang. Nardi menjawab bahwa dirinya akan memperdalam karate di Kyokushinkai – kan, Ikebukuro,Tokyo dibawah Master Mas.Oyama. Mata petugas lalu mengarah ke badge yang berada disisi kiri jas yang dipakai Nardi dan sekali lagi memandang wajah Nardi dengan tajam tetapi dengan wajah ramah sambil berkata dengan lantang: ‘Oyama Karate‘. Nardi mengiyakan, lalu petugas itu melarang Nardi menurunkan barang-barang yang lain dan langsung mempersilahkan menutup kembali kedua koper dan memperbolehkan Nardi berlalu sambil tersenyum. Ternyata Oyama Karate cukup dikenal, pikir Nardi sambil mengucapkan terimakasih. Terutama di Tokyo, seorang pemegang tingkat kyuu I pernah menghajar sekitar 7 pemuda berandalan di setasiun Ikebukro suatu waktu sehingga Oyama Karate dikenal luas. (Dikenalnya Oyama Karate yang kemudian menjadi Kyokushinkai Karate secara luas bisa dibaca pada Riwayat Mas Oyama.).

Menjelang pintu keluar, tanpa diduga terlihat tiga orang berdiri memegang bentangan spandoek putih panjang bertuliskan:‘SELAMAT DATANG TUAN NARDI T.NIRWANTO WAKIL DARI INDONESIA‘, sambil salah seorang melambaikan bendera Merah Putih, yaitu Sdr.Yan Okuyama yang Nardi kenal wajahnya melalui foto selama berkorespondensi, juga wajah Atshushi Kanamori sensei kecuali orang ketiga yang belum pernah Nardi tahu. Nardi disambut oleh yang paling muda dahulu diantara mereka sambil memperkenalkan satu persatu. Ternyata orang yang ketiga ini adalah Mr.Yoshio Kanamori. Yan Okuyama adalah teman korespondensi dari Tokyo, mahasiswa yang kuliah di Jepang dari Bogor yang belum pernah Nardi jumpai secara langsung. Kedua adalah Atsushi Kanamori dari Nagoya, kira kira 600 km dari Tokyo, seorang guru yang pernah Nardi sebutkan sebelumnya sebagai seorang guru dan pernah bertugas mengajar di Manado pada masa pendudukan Jepang di Indonesia dan yang terakhir Mr.Yoshio Kanamori tadi, adik Atsushi Kanamori sensei,salah seorang Manager Bagian dari Perusahaan Penerbangan JAL. Baik Yan Okuyama, Atsushi Kanamori dan Nardi sendiri yang saling mengenal melalui korespondensi baru bertemu secara langsung malam itu di Haneda Airport.Yan Okuyamapun walau bertahun tahun berada di Tokyo baru pertamakali ini jumpa dengan Atsushi Kanamori dari Nagoya walau sudah lama juga saling berhubungan melalui surat menyurat. Bukan Nardi saja yang tercengang akan sambutan ini. Bahkan banyak penumpang lain yang melihat adegan ini tercengang dan terheran-heran karena Nardi disebut Wakil Dari Indonesia, seorang diri tanpa pendamping dan disambut oleh 3 orang berwajah asli Jepang. Nardi merasa sedikit malu tetapi ada rasa bangga disebut wakil dari Indonesia dan sangat berterimakasih atas keperdulian dan perhatian ketiga sahabatnya ini walau belum pernah jumpa sebelumnya atau mengadakan perjanjian mengenai penjemputan ini kecuali memberitahu hari kedatangan di Haneda Airport. Nardi berkata akan langsung dengan taxi menuju Tonan Asia Gakusei Ryuu dimana Yan Okuyama tinggal selama ini sebagai seorang Mahasiswa di Tokyo. Yan Okuyama ini yang berjanji membantu memintakan ijin satu kamar kepada Pimpinan Asrama yaitu Pendeta Katoh untuk beberapa saat sebelum Nardi bisa mendapatkan tempat persewaan lain yang definitif disekitar stasiun Ikebukuro yang dekat dengan Tokyo Honbu karena kebetulan asrama ini terletak sekitar 50 meter dari Tokyo Honbu, di sebuah gang di seberang stasiun Ikebukuro dibelakang Rumah Sakit Hiratsuka tidak jauh dari Police Headquarters. Ikebukuro termasuk stasiun K.A besar dan utama saat itu. Ini adalah suatu kebetulan yang tidak semata-mata kebetulan !

Dalam perjalanan Haneda Airport ke Ikebukuro yang terasa cukup lama, terjadi dialoog khususnya dengan Yan Okuyama yang sudah beberapa tahun tidak pernah kembali ke Bogor. Dengan Atsushi Kanamori sensei memakai bahasa Indonesia dan yang terasa kurang difahami Kanamori sensei, maka tugas Yan Okuyamalah untuk menterjemahkan dan menjelaskan. Sedangkan dengan Mr.Yoshio Kanamori hanya dengan senyum-senyum karena hanya bisa berbahasa Jepang, sedangkan bahasa Inggrisnya yang sepotong sepotong juga agak sulit ditangkap kecuali dengan bahasa Jepang yang diterjemahkan oleh Yan Okuyama kedalam bahasa Indonesia. Walau demikian, selama tinggal di Tokyo dikemudian hari, Nardi pernah diajak Mr.Yoshio Kanamori dan keluarga berlibur beberapa hari di daerah Hakone, disebuah danau dikaki Gunung Fuji. Suasana juga akrab walau sebagian besar percakapan dilakukan dengan bahasa isyarat. Lucu juga rasanya. Malahan Mr.Yoshio Kanamori di Tokyo sering kesasar untuk keluar kota. Dia mengakui demikian luasnya Tokyo sehingga sering lupa jalur keluar daerah wisata.

Nardi diberi waktu tinggal sekitar dua minggu di asrama tetapi baru dua hari tinggal di situ, pada saat datang ke Kantor bagian adminmistrasi Tokyo Honbu untuk melakukan pendaftaran dan melihat segala peraturan dan ketentuan yang ada, juga melihat poster poster yang terpampang di dinding, tiba tiba dari arah belakang ada telapak tangan yang terasa berat ditimpakan ke pundak kiri Nardi dan waktu Nardi menoleh ke belakang, telah berdiri Master Oyama yang memang wajahnya dikenalnya terutama dari buku bukunya dan hasil korespondensi, Oss, ucap Nardi! Well Come,Well Come sapa Kancho Oyama sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Suara Master Oyama terasa berat tetapi penuh keramahan. Wajahnya agak kemerah merahan dan segar. Sedikit berdialog dalam bahasa Inggris yang tidak lengkap dan lalu Master Oyama pamit dan naik ke tempat tinggalnya yang berada diatas dojo pusat. Oleh Master Oyama keesokan harinya Nardi diperkenankan menempati kamar di tingkat dua Apartment kecil yang berada dibelakang Honbu dengan uang sewa 6000 yen tiap bulan. Uang pangkal dan uang pendaftaran sebesar 12.000 yen, iuran 6000 yen sebulannya. Biaya makan, cuci pakaian, iuran belajar karate dan lain-lain terasa berat juga karena biaya hidup di Tokyo memang tinggi. Ada keuntungan dengan tersedianya dapur dengan kompor gas sehingga bisa memasak seadanya dan sederhana diimbangkan dengan dana yang terbatas. Yang penting; berkalori dan bergizi, bisa dimakan serta sesuai lidah Nardi. Sekitar 300 meter dari Honbu terdapat Toko Swalayan yang sangat lengkap. Bumbu apapun terdapat disana laksana di Tanah Air. Nardi harus berhemat dengan ketat dan menabung untuk pada saat harus kembali ke Indonesia ada dana untuk pembelian tiket pulang ke Indonesia. Karenanya, untuk menjaga agar aman betapun sedikitnya uang yang diterima dari Indonesia ditabungnya di Bank Mitsubishi Ikebukuro,Tokyo.

Tanpa menyia nyiakan waktu Nardi mulai berlatih. Latihan ternyata cukup ketat dan padat serta berat khusus yang harus diikuti Nardi setiap hari karena memang datang ke Tokyo bukan sebagai anggota biasa yang berlatih rata rata duakali seminggu, tetapi Nardi harus berlatih sepanjang minggu, yaitu dari pukul 10.00 – 12.30, lalu dari pukul 15.00 – 17.30 dan pukul 19.00 – 21.30 dengan Jiyu Kumite yang setiap minggunya tidak kurang dari 6 – 8 kali, satu lawan satu, belum lagi setiap hari pasti ada Kumite Bergantian, berhadap hadapan dengan bergesar sehingga masing-masing berjumpa satu sama yang lain. Pada saat berangkat berat badan Nardi 93 Kg merosot dengan drastis setelah 3 bulan berlatih menjadi 72 Kg walau makanan cukup dijaga, sederhana tetapi cukup karbohidrat, berkalori dan bergizi dengan jumlah yang cukup. Malahan teman-teman Karateka Jepang yang lebih senior dari Nardi, dari luar Kota Tokyo (Kost), kalau malam hari banyak yang tanpa sungkan mengetuk pintu Apartment Nardi. Keperluannya?. Minta makanan seperti Roti, Noodles (Mie) dan lain-lain yang tersedia. Merekapun sering juga merasa lapar, khususnya setelah latihan. Dikiranya Nardi banyak uang karena dari Indonesia belajar di Tokyo, termasuk kota termahal di dunia. Memang, di Koelkast Nardi walau tidak banyak tetapi selalu tersedia bahan-bahan khususnya yang instant, bahkan ketela, ubi kayu dan bumbu lain tersedia dan terutama telor dan susu tawar Morinaga untuk gizi dalam mempertahankan tubuh agar tetap fit.

Keadaan ini cukup merisaukan Master Oyama juga sehingga beliau pernah bertanya secara langsung:‘ Are you ill ?’ yang dijawab oleh Nardi; ‘No, I am healthy’. Master Oyama memberi tambahan semacam multivitamin untuk Nardi demi menjaga kesehatan. Madam Oyama yang saat itu sering berada di ruangan kantor sambil menggendong puterinya yang masih kecil, yang sekarang sudah berunur 30 tahun lebih, juga ikut merasa kuatir karena perubahan phisik Nardi yang drastis walau Nardi merasa tetap sehat-sehat saja. Hanya semua celana Nardi perlu dilipat lingkar perutnya karena memang mengecil dari biasanya. Keadaan ini disebabkan berbagai faktor antara lain, yaitu: Jumlah latihan tiga kali sehari dan berat sehingga dalam waktu satu bulan mencapai jumlah sekitar 90 kali, padahal biasanya seminggu anggota biasa berlatih dua kali maksimal, sehingga dalam waktu satu bulan anggota berlatih sebanyak 9 kali. Dalam perbandingan ini, satu bulan latihan bagi Nardi sama dengan sepuluh bulan latihan anggota biasa, paling sedikit. Hal lain yang menjadi penyebab ialah; Jiyu Kumite yang selalu dilakukan minimal satu kali dalam tiap hari, sangat menimbulkan rasa ngeri karena rasa sakit yang belum hilang harus terulang lagi dengan adu benturan baru, kalau tidak pagi hari tentu sore atau malam hari Jiyu Kumite diberikan, disamping latihan lain yang betapapun beratnya, tetapi lebih mudah diatasi karena hanya faktor rasa amat capai. Jangankan yang setiap hari berlatih hingga tiga kali. Mereka yang berlatih seminggu dua kali saja banyak yang tidak masuk karena rasa sakitnya yang tentunya belum hilang akibat free fighting ini. Keadaan seperti ini sangat menguras tenaga dan energi yang besar. Jiyu Kumite ini menjadi bagian yang paling menakutkan bagi siapa saja. Kalau Pelatih masuk dan semua jendela serta pintu ditutup, berarti akan dilakukan Jiyu Kumite dengan keras dan berat. Saat dimulainya Jiyu Kumite atau saat selesai, sebagai tanda selalu diikuti bunyi tambur (Duuunnng!). Suasana ini terdengar sangat menyeramkan dan hingga kini bunyi ini masih terngiang-ngiang ditelinga Nardi saat melihat anggotanya berjiyu kumite baik dalam latihan, ujian maupun dalam menghadiri kejuaraan kejuaraan. Kesan dan penderitaan ini memang membekas dalam karena sistim Full Body Contact ini seseorang nyata-nyata merasakan sakit dan penderitaan akibat kontak langsung dalam menguji mental phisiknya. Baik menyerang maupun diserang mencerminkan keadaan nyata secara langsung dan sungguh-sungguh. Bahkan serangan keras terkadang memberi umpan balik yang dahsyat apabila salah dan lengah dalam mengantisipasi serangan balik tadi. Perkelahian bebas secara nyata ini memang menyakitkan dan membutuhkan mental tinggi untuk bisa bertahan dan melakukan berkali kali dalam waktu yang pendek. Benjolan-benjolan khususnya di tulang kering kaki tidak akan hilang dalam tempo hitungan hari bahkan minggu sudah harus beradu lagi. Untuk berjalan saja terasa amat sulit dan sakit, keluh Nardi dan semuanya ini harus ditahan dan dipertahankan menyadari bahwa kepergiannya ke Tokyo Honbu memang untuk mencapai hasil dan mengejar waktu. Melatih mental, semangat dan daya tahan disamping tehnik karate itu sendiri. Tidak mungkin semuanya ini dilakukan dengan cara bersantai saja dan apalagi dengan membolos begitu saja. Setiap kali latihan harus menandatangani daftar presensi secara langsung. Home sick juga salah satu penyebab juga. Millian S. dari Yugoslavia, teman Nardi satu apartment yang tinggal di kamar bagian bawah, setelah dua minggu berlatih tidak bisa bertahan dan pulang ke negaranya. Pemakaian energi jadi meningkat walau kerja phisik tidak berat apabila manusia dalam suasana ketegangan panjang. Umpama para astronot walau kerja phisik relatif ringan tetapi pasti terjadi masa ketegangan jiwa yang tinggi karena bahaya bisa mengancam setiap saat akibat kesalahan betapapun kecilnya. Hal ini bisa menurunkan berat badan. Apalagi kalau ketegangan terjadi karena mental phisik secara bersama sama mengalami peningkatan drastis.Berat badan bisa turun lebih cepat seperti yang dialaminya.

Dari cerita di Sekretariat Honbu sering terjadi karateka dari berbagai negara yang coba mengikuti Special Training ini setelah beberapa saat secara diam-diam meninggalkan latihan dan pulang ke negaranya. Mengapa diam-diam? Hal ini disebabkan karena rasa sungkan dan malu kepada Master Oyama, para Pelatih dan rekan berlatihnya, berhenti berlatih dan pulang kembali ke negaranya karena tidak tahan, tidak bisa menghadapi kenyataan ini apalagi menjelaskan alasannya maka mereka pergi secara diam-diam dan dengan tiba-tiba. Hal ini Nardi saksikan sendiri sering terjadi dilakukan karateka asing. Anggota lain, karateka dari Jepang sendiri yang melihat daftar presensi yang selalu digantung di dinding dojo saat itu merasa heran melihat jumlah latihan yang dilakukan oleh Nardi. ‘You are crazy !’ katanya, karena karateka Jepang sendiri belum tentu secara rutin seminggu berlatih penuh duakali. Mereka tidak bisa membayangkan jumlah latihan yang demikian padat terutama karena Nardi orang asing yang biasanya seperti cerita diatas. Nardi selalu dalam pembicaraan mengenai intensitas latihan ini menjawab bahwa dirinya terpaksa harus bertahan dan bertekad walau sangat menderita untuk membuktikan tekad dan semangatnya kepada Kancho dan Tokyo Honbu, terutama juga pada para senior yang melatihnya karena memang tujuan datang ke Jepang untuk memperoleh hasil maksimal sedangkan rekan rekan dari Jepang kan tidak dituntut oleh siapapun kecuali kemauan diri sendiri. Nardi harus meyakinkan diri sendiri bahwa dirinya bisa tahan uji menghadapi latihan berat ini. Perjuangan untuk bisa sampai di Honbu sudah demikian berat, berliku liku dan sulit. Tidak mungkin semuanya ini disia-siakan. Alangkah kecewanya, khususnya bathinnya apabila hal ini sampai terjadi. Mereka rata-rata bisa memahaminya dan tidak berlebihan, merasa kagum dan respect. Karenanya, dalam latihan-latihan kalau sudah sampai sesi Jiyu Kumite, tanpa malu-malu beberapa rekan berlatih selalu mendekat ke Nardi dan minta untuk tidak terlalu keras dalam memukul dan menendang, karena mereka sadar, saat melakukan Jiyu Kumite Nardi menjadi keras dan bersungguh-sungguh, lain dibanding saat di luar dojo yang selalu ramah dan halus. Jiyu kumite harus selalu dilakukan bersungguh-sungguh dan keras, kalau sampai ketahuan bahwa hanya main-main, maka keduanya dapat hukuman yang lumayan. Pernah seorang senior berkumite secara keras dengan Nardi. Tendangannya yang kuat dan tinggi tak terbendung dan menghantam telinga Nardi bagian kiri. Luar biasa, segera bunyi ngiiiiing ditelinga kiri, terasa bumi berputar mendadak, pusing serta mata berkunangkunang dan terasa akan jatuh tersungkur, tetapi dari dalam hatinya saat seperti ini selalu ada dorongan kuat pada diri Nardi, yaitu: Jangan membuat malu Indonesia, harus bertahan!. Apa yang terjadi ? Senior tadi setelah menendang dengan dahsyat ke kepala Nardi langsung jongkok dan berseru: Maitta, maitta! (I give up – Menyerah) sambil memegangi punggung kaki kanannya yang seketika bengkak. Dia takut kalau dalam keadaan demikian itu mendapat serangan dari Nardi, padahal Nardipun sekedar bertahan untuk tetap berdiri dan tidak jatuh. Sedangkan senior itu karateka yang cukup disegani. Yang hadir merasa kagum. Hal ini diutarakannya saat selesai latihan di ruang ganti pakaian. Sekiranya Nardi tersedia cukup dana, setelah kejadian itu pasti dilakukan pemeriksaan medis karena tendangan itu demikian telak, tetapi hal itu tidak mungkin karena keterbatasannya. Hingga beberapa tahun setelah kejadian itu, telinga kirinya tetap berdengung. Memang diakui oleh Nardi, pada sesi Jiyu Kumite ini apabila Nardi sedang berkumite apalagi dengan karateka yang lebih senior selalu ada komando dari pelatih dalam bahasa Jepang yang Nardi bisa memahami artinya, yaitu: ‘Jatuhkan!’. Keadaan ini terjadi bukan karena menyombongkan diri sendiri, tetapi didorong semangat ‘Jangan memalukan Indonesia!‘. Nardi selama di Honbu tidak pernah terpukul atau tertendang hingga jatuh, sedangkan, sungguh, mereka ingin melihat Nardi bisa dijatuhkan, bahkan mereka selalu berusaha untuk mengangkat dan membanting Nardi, tetapi selalu gagal. Walau jauh dari menguasai, tetapi setidaknya Nardi memahami trick trick Judo dan juga Aikido sehingga semua tenaga yang ingin digunakan untuk membanting, bisa diimbangi dan dinetralisir. Hal ini membuat mereka penasaran. Hingga pada saat ujian menjelang kembali ke Indonesia akhir tahun yang dipimpin Master Oyama sendiri, Nardi belum pernah sekalipun tertendang atau terpukul hingga jatuh apa lagi berteriak :‘ Maitta’ (I give up) sedangkan karateka Jepang sendiri saat menghadapi pukulan atau tendangan Nardi saat terdesak, sering berseru: ‘Maitta!‘. Karenanya Nardi yakin, bangsa inipun tidak dibawah mental orang Jepang, semua itu tergantung pribadinya. Kita sering sudah kalah mental sebelumnya, khususnya dalam Seni Bela Diri karena beranggapan bahwa mereka itu segala galanya. Banyak pemuda Jepang yang ingin bersahabat walau mereka tidak berlatih di Honbu. Selesai latihan selalu ada saja yang menunggu didepan Honbu dan ingin mengajak Nardi bersantai, tetapi hal ini sering ditolaknya dengan halus dan ramah karena selesai latihan keadaan phisik Nardi selalu merasa sangat capai sehingga untuk jalan saja tidak bisa secara wajar serta harus mempersiapkan diri untuk latihan berikutnya. Bagaimanapun sebagai manusia biasa terhinggapi juga perasaan Home Sick (Rindu Rumah) yang amat sangat. Semuanya ini disamping latihan yang berat tiap hari, pikirannya selalu diselubungi berbagai masalah, terutama perasaan kesepian tak bisa dihindari, menyebabkan Nardi sulit tidur walau rasa kantuk selalu menghinggapi dirinya. Saat duduk di Taman didekat Honbu mencatat urut-urutan gerakan KATA atau menulis surat, selalu timbul rasa kantuk yang luar biasa,tetapi apabila kembali ke apartment dan coba berbaring untuk bisa tidur sebentar saja, rasa kantuk segera hilang dan mata jadi terbuka lebar lagi. Pikiran selalu melayang-layang dan sungguh; rasa rindu yang tak terhingga ingin rasanya segera bisa kembali ke Indonesia. Ini semua menyebabkan kemerosotan berat badan yang luar biasa. Syukur tidak sampai jatuh sakit karena didukung semangat dan keinginannya untuk membawa hasil maksimal demi Perguruan yang sedang dikembangkan di Tanah Air. Sakit, merupakan permohonan Nardi yang utama kepadaNYA untuk dijauhkan dari dirinya dan ternyata dikabulkan. Selama di perantauan sakit menjauhinya. Bagaimana sekiranya sampai jatuh sakit ! Di tahun-tahun itu idealisme Kyokushinkai - Kan Tokyo Honbu masih tinggi. Khusus latihan di Honbu untuk para instructor yang akan membantu menyebarkan Kyokushin Karate di dunia dilakukan dan dibina dengan mantap. Tokoh tokoh ini sekarang banyak yang masih aktif dan kuat dalam mempertahankan identitas dan idealisme Kyokushin Karate.

Figur Mas Oyama masih mendunia dan pengaruh Tokyo Honbu Committee belum sampai merenggut kebesaran Kyokushin Karate dan Master Oyama yang muncul nyata di permukaan setelah World Open Tournament I, 1975. Hal ini jauh-jauh sudah terasa. Tiap tahun Honbu menyelenggarakan All Japan Karate Open Tournament. Sambil mengajak Nardi makan di sebuah kedai tidak jauh dari Honbu (saat itu 1972), Tadashi Nakamura Shihan, senior yang cukup disegani pernah berucap bahwa dirinya yang hampir dari separuh hidupnya mendarma baktikan pada Oyama Karate(Kyokushin Karate) tetap terakhir merasa kecewa karena pengaruh Tokyo Honbu Committee mengarah pada komersialisasi yang keterlaluan dan diperkirakan akan mengganggu persatuan di dalam tubuh para senior. ‘Nardi, aku akan meninggalkan Kyokushinkai-kan tetapi kamu tetaplah setia dan mendukung Kancho!’, maksudnya Master Oyama. Kata-kata ini yang diucapkan salah seorang senior yang cukup disegani saat itu memang ternyata di kemudian hari benar terjadi. Tadashi Nakamura Shihan membentuk ‘SEI DO KARATE’ di A.S. dan Shigeru Oyama juga berada di A.S sambil menyimpan rasa kecewa yang dalam. Kyokushinkai-kan, terutama setelah meninggalnya Sosei Oyama April 1994, terbelah paling sedikit menjadi tiga IKO, yaitu: International Kyokushin Karate Organizations. Shokei Matsui yang sekarang menjadi Pewaris Sosai Oyama pada saat Nardi berlatih di Tokyo Honbu, 1970 baru berusia 7 tahun, mungkin saat itu masih di group Karateka Junior. Shigeru Oyama Shihan, senior seangkatan Nakamura Shihan juga membangun kekuatan organisasinya sendiri di A.S., demikian juga dengan Matsushima dan yang lain-lain. Sayang sekali!. Padahal Olympiade bisa menerima Karate sekiranya ada kerukunan antara Aliran Non Contact dan Full Contact yang keduanya secara realitas mendunia. Adanya kompromi menyebabkan terjadinya satu peraturan pertandingan Universal. Ini semua terjadi apabila seorang tokoh, pendiri dan pemimpin suatu organisasi seni beladiri terselubung pengaruh sekelompok pribadi yang tidak memahami idealisme murni yang dahulu dirintis Mas Oyama dan hanyut terkoyak ke kanan kiri tanpa jati diri yang dahulu sangat dijunjung tinggi. Kabur antara idealisme dan kepentingan kepentingan pribadi.

Sering pribadi-pribadi yang tidak memahami sepenuhnya norma-norma Seni Beladiri yang harus dijunjung tinggi dan dijaga dengan baik bercampur aduk menjadi gumpalan malapetaka karena banyaknya pribadi-pribadi yang sebenarnya terlampau berpandangan sempit dan memanipulir keberadaan dan kepopulerannya untuk tujuan jangka pendek, sesaat, tanpa memperhitungkan akibat yang timbul, umpama Kedudukan, Business, Politik dan Pengaruh karena dijadikan alat mencari koneksi, akibatnya segala cara dihalalkan demi tujuan dan menjadi penentu kebijaksanaan organisasi. Semua ini akan menjadikan suatu organisasi beladiri yang seharusnya tumbuh di atas idealisme yang bersih dan agung, cepat runtuh dan pecah belah. Hal ini terjadi hampir dimana- mana (Ingat Keruntuhannya Shiaolin Temple di daratan Cina saat itu. Selalu karena faktor dari dalam, bukan dari luar).

Master Oyama merintis Kyokushin Karate (The Ultimate Karate) secara terbuka untuk umum sekitar tahun1953 dan pada tahun1957 anggotanya sudah membesar. Tokyo Honbu aktif sekitar tahun1964 setelah kemajuan pesat tercapai (Baca Riwayat Master Oyama). Atas dasar ketekunan, semangat, tahan uji dan kesungguhan Nardi berlatih di Honbu, maka secara pribadi dan organisasi diberikan Piagam Penghargaan khusus dari Mas Oyama saat sebelum kembali ke Indonesia yang disimpannya hingga kini. Kembali dari Tokyo Nardi memantapkan tingkatan dari Yoshida sensei, yaitu DAN I dari Tokyo Honbu sebagai hasil mengikuti Special Black Belt Course For Instructors. Akhir tahun 1970 Nardi kembali ke Indonesia dan di Juanda disambut anggota senior dalam jumlah yang cukup besar dan diadakan jamuan kecil di suatu Restoran di Surabaya. Sungguh suatu kebahagiaan berada di Tanah Air lagi diantara Keluarga Perguruan yang sudah mulai menyebar.Mereka semua penuh semangat dan sangat mendambakan Perguruan akan makin meluas setelah kedatangan Nardi kembali di Tanah Air.

Selama Nardi berlatih di Tokyo Honbu, seluruh wewenang menjalankan Perguruan yang mulai tumbuh ini diserahkan kepada Anggota Senior dan berlangsung dengan baik. Tidak lama setelah berada di Tanah Air, Nardi langsung merencanakan satu ‘Latihan Khusus’ bagi Karateka Senior yang bersedia akan menjadi pelatih dan membantu Perguruan. Latihan khusus ini diadakan selama dua minggu penuh mengingat sebagian besar adalah pelajar yang tidak bisa terlalu lama meninggalkan bangku sekolahnya. Rata- rata waktu itu mereka berusia antara 16 – 18 tahun. Usia yang masih penuh tenaga, semangat dan gairah sedangkan saat Nardi berkesempatan berlatih di Tokyo Honbu telah berusia 31 tahun, usia yang sudah melewati masa remaja dan memasuki masa dewasa penuh. Saat mulai mengenal karate pada usia sekitar 18 tahun, yaitu 1957. Latihan khusus ini walaupun singkat tetapi padat dan memberikan hasil yang luar biasa. Rata-rata mereka merasa mengalami peningkatan menyeluruh, antara lain; ketahanan phisik, ketrampilan, rasa percaya diri, keyakinannya makin tebal dan menganggap sistim full body contact ini tidak berbahaya asal diikuti latihan dengan metode yang intensif dan benar. Bukti-bukti yang ditampilkan Nardi di latihan khusus juga di dojo-dojo saat itu memberi rasa percaya diri bahwa sistim nyata dan rasional ini bisa diterima dan dicerna secara logika asal semuanya dilakukan sesuai dengan persyatatan dan gemblengan yang cukup. Sistim Full Body Contact 1970 mulai secara nyata masuk Indonesia walau sebelumnya dalam latihan-latihan telah diterapkan sistim ini sehingga saat Nardi belum ke Jepang, demonstrasi karate yang diadakan, umpamanya pada HUT I Perguruan 1968 di Gedung Bioskop Mimosa Batu saat itu sudah membuat para penonton kagum karena terlihat dahsyat dan nyata. Anggota sudah melakukan semuanya sesuai dengan arti seni beladiri, bukan sekedar menampilkan keindahan dan show belaka tetapi mempunyai nilai nyata baik ketahanan phisik, mental sipritual maupun tehnik- tehnik dan ketrampilan dalam membela diri. Pembinaan Mental Karate – Go No Sen segera diubah menjadi Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate Do Indonesia (Kyokushinkai Karate). Ketertiban dan kedisiplinan sudah diberi stresss khusus. Ketepatan waktu karena dimulai pukul 19.00 tepat, disamping tiap undangan untuk siapapun diberi peringatan: ‘Harap datang tepat’, pintupun diinstruksikan untuk ditutup menjelang pukul 19.00 dan siapapun, tamu dari manapun tidak diperkenankan masuk selama Upacara Tradisional HUT Perguruan yang selalu dimulai dengan Lagu Indonesia Raya. Pintu dibuka setelah upacara ini selesai. Tamu yang tidak mau menunggu, terserah apa yang akan diperbuat. Sejak itu khususnya warga, juga pihak luar sadar, ketertiban dan kedisiplinan tidak bisa ditawar, khususnya tepat waktu.

Cabang makin meluas, masyarakat makin mengenalnya dan mempercayai serta menyukainya. Di Jawa Timur, permintaan untuk membuka cabang Perguruan datang dari banyak kota. Perguruan mulai mempersiapkan diri untuk memperluas geraknya ke Jawa Tengah. Perguruan tahun 1972 baru berkembang secara nyata dan terbanyak berada di Jawa Timur, tetapi gaungnya sudah menembus Nusantara karena gencarnya pemberitaan media cetak saat itu. Nardi mulai menulis artikel Kyokushin Karate di berbagai Media Nasional seperti KOMPAS, SINAR HARAPAN (Sekarang : Suara Pembaruan) dan MERDEKA. Bulan Juli 1971 Tokyo Honbu meningkatkan Nardi ke DAN II dan akhir 1972 secara khusus Nardi ke Jepang lagi dan tinggal beberapa saat serta mengikuti ujian dan memperoleh tingkatan DAN III, bersamaan dengan diselenggarakannya All Japan Karate Open Tournament. Nardi merupakan orang pertama dari Indonesia yang memperdalam Aliran Kyokushin Karate pada Tokyo Honbu dibawah Master Oyama sebagai Bapak dan Pendiri Sistim Full Body Contact ini.Nardi merupakan orang pertama yang membawa Kyokushinkai Karate masuk Indonesia. Tahun 1987 dicanangkan melalui brosur dan selebaran publikasi: Tiada Kyokushinkai Karate setua Perguruan ini di Indonesia.


NEXT
PERJUANGAN DI DALAM NEGERI
>>>>>anda klik di sini!!


Untuk kritik dan saran:
HUBUNGI REDAKSI

Kedua logo perguruan terdaftar pada HAKI No.J00-01-19127 dan HAKI No.J00-01-19128. Dikelola oleh Pengurus Pusat Perguruan, dan didukung langsung oleh Pimpinan Pusat Perguruan. Tampilan terbaik pada resolusi 1024 x 768.