PUTRI PARAMITHA

Putri Paramitha, salah satu Srikandi Perguruan ini dilahirkan di Pasuruan, 29 Maret 1989
Berasal dari Dojo Situbondo, Jawa Timur, dengan Pembina Sensei Tan Siek Kiem (DAN III).
Kejuaraan pertama yang diikuti adalah Kejurda sejawa Bali NTB ‘Dharma Lautan Utama Cup’ tahun 2006 di Surabaya.
Sejak muda, Putri sudah merantau kemana2 sehingga tidak pernah membina dojo secara tetap dan jangka yg lama, hanya sering  membantu atau menggantikan Pembina di dojo2 tersebut.
Selama masa SMA (2005-2007) di Dojo Situbondo umum, lalu tahun 2008 pindah ke Jakarta dan berlatih di Dojo Garda Oto, Dojo Senayan, Dojo Kelapa Gading, Dojo Pejaten.
Pada tahun 2011 pindah lagi ke Surabaya dan berlatih sekaligus kadang-kadang melatih di Dojo Surabaya Umum, Dojo Apotek Klampis, Dojo STTS, Dojo Wisma mukti, Dojo Srijaya, Dojo Santa Maria, Dojo Mojokerto.
Nah saat ini setelah berkeluarga, tinggal di Kediri sejak tahun 2016 dan membantu membina Dojo Kediri Umum.
Orang yang paling berpengaruh dalam hidup Putri adalah Bapak, karena beliaulah yang mensupport sejak dari  awal sampai akhir.
Perguruan ini memberikan kesan mendalam bagi Putri karena memiliki banyak keluarga baru di Perguruan ini dengan berbagai latar belakang suku dan agama, tanpa membeda-bedakan satu dan lainnya.
Sejak tahun 2006, Putri Paramitha hampir selalu menjuarai turnamen2 yang diikutinya dan juga beberapa kali mendapatkan thropy Juara Favorit yang menunjukkan tingkat kematangan teknik berkumite yang bersih, rapi dan enak ditonton. Jodan mawashigeri yang cepat dengan timing yang tepat, menjadi andalannya.
Walaupun badannya termasuk berukuran mungil dibandingkan karateka2 dewasa wanita lainnya, tetapi berkat keunggulan tekniknya, hampir semua lawan2nya dapat dikalahkan.
Tidak banyak karateka Putri yang sanggup konsisten selama 10 tahun lebih aktif dalam kejuaraan2 dan berprestasi. Putri adalah satu yang langka. Menikah di bulan September tahun 2013 dan tahun 2014 Putri melahirkan anaknya.  Disela-sela mengasuh bayinya Putri berlatih lagi dan pada Kejurnas FORKI tahun 2016 Putri turun kembali dan berhasil kembali menjadi Juara I, padahal saat bertanding itu sambil mengasuh putranya Jannatu Sauqiya, yang masih berusia 2 tahun.  Suatu prestasi langka yang jarang orang lain dapat lakukan. Saat artikel ini diunggah (17 Januari 2019), Senpai Putri baru saja melahirkan putranya yang kedua. Selamat Senpai, semoga menjadi anak yg berbakti kepada orangtua, nusa dan bangsa. Oss.
Koleksi Trophy yang berhasil dikumpulkan:
Juara I Kejuaraan se Jawa Bali NTB Dharma Lautan Utama Cup 2006 di Surabaya.
Juara Favorit Kejuaraan se Jawa Bali NTB Dharma Lautan Utama Cup 2006 di Surabaya.
Juara I Kejuaraan se Jawa Bali NTB  Dharma Lautan Utama Cup 2007  di Surabaya
Juara I Kejurda DKI Jaya-Banten-Jawa Barat pada 9 Maret 2008 di Jakarta
Juara I Kumite dan Juara I KATA, Kejuaraan DKI Banten Jabar 2009 di Sport Center Alam Sutera 
Juara I Kejurnas PMK di Jakarta, 10 Oktober 2010 
Juara Favorit Kejurnas PMK di Jakarta, 10 Oktober 2010 
Juara I Kejurnas  PMK di Semarang,  25 November 2012
Juara I Kejurnas FORKI Full Body Contact, Piala Pangkostrad II di Surabaya, 9 Oktober 2016
Saat menjuarai Kejurnas FORKI Full Body Contact II tahun 2016
Kejuaraan yg paling berkesan adalah Kejurnas di Bali pada tahun 2008 dan kejuaraan Asia Pacific bulan Maret 2010 di  Kuala Lumpur, Malaysia. Karena di kedua Turnamen tersebut, Putri kalah telak dan tidak masuk juara sama sekali. Padahal persiapan begitu matang dan habis2an. Di Bali Putri harus mengakui keunggulan Ivone Gunawan dari Surabaya, dan di Kuala Lumpur Putri takluk dari atlet Kazakhtan. “Di situlah saatnya kita harus sportif mengakui keunggulan lawan kita”, demikian Putri bercerita.
Almarhum Hanshi Nardi telah mengajarkan dan berhasil membuat Putri menjadikan kedislipinan, tanggung jawab dan perjuangan sebagai Prinsip Hidupnya.
Secara khusus Putri mengucapkan  terima kasih kepada Pembina Sensei Tan Siek Kiem, dimana Beliau dengan segala pengorbanannya membuat Putri bisa berhasil seperti sekarang. Juga tidak lain karena berhasilnya didikan almarhum Hanshi, sehingga beliau pun dapat melakukan banyak hal yg tidak mampu Putri membalas nya.
Tentunya selama bertahun-tahun berlatih Putri sempat mengalami kejenuhan. Cara mengatasinya biasanya dengan mengadakan  latihan di luar(alam bebas).
Duka mendalam yang Putri rasakan, saat Hanshi terlalu cepat meninggalkan kita semua yg belum matang ini. (tahun 2009)
Pesan dari Putri Paramitha untuk sesama warga perguruan :
Agar tidak cepat berpuas diri atas prestasi yg di dapat, mampu mengakui kekalahan saat bertanding (tdk mencari2 alasan), serta segera bangkit dari kekalahan/ketidaklulusan ujian kenaikan tingkat. Kemudian mampu menyeimbangkan antara Kumite dan KATA, menjadikan latihan karate sebagai pilihan yang berat apabila ditinggalkan dengan alasan sekolah atau bekerja.
Bersama-sama murid-muridnya dari Kediri