Pemakaman 8 Karateka

Suasana mengharukan terjadi. Keluarga datang dan memberi salam kasih sayang dan hormat kepada puteranya, saudaranya dan mungkin teman baiknya. Berita kejadian ini menyebar keseluruh Tanah Air karena saat itu nama Perguruan, Kyokushinkai Karate (Oyama Karate) sudah cukup dikenal. Berita musibah ini tidak hanya menyebar ke segala penjuru Tanah Air, bahkan di Jerman, Kanada pers memberitakan. Mungkin juga di negara-negara lain dimana Kyokushinkai Karate juga berkembang.

Saat peti jenazah diangkat di depan dojo pusat menuju ke pemakaman. Masyarakat berjubel.

Upacara pemakaman ke delapan karateka merupakan upacara pemakaman terbesar di Batu hingga kini. Beribu- ribu orang hadir bukan dari masyarakat Batu saja, tetapi sejak sehari sebelumnya sudah banyak orang dari luar kota datang untuk menghadiri dan menyaksikan kejadian langka ini. Warga dari seluruh Cabang banyak yang hadir untuk menghadiri upacara pemakaman ini. Sembilan lubang dan sembilan peti jenasah sudah disiapkan, yang satu untuk Nardi apabila saatnya kelak tiba, yaitu lobang ke sembilan.

Nardi minta semua karateka melepas sabuk tingkatan sehingga tidak ada perbedaan senior dan junior. Pakaian karate jadi polos semua tanpa sabuk. Menandakan dalam keadaan duka ini semua benar-benar dalam kebersamaan. Kedelapan peti jenasah setelah upacara penghormatan selesai, diangkat di atas bahu para karateka secara bersama- sama dan bergantian melalui jarak sekitar satu km menuju pemakaman.

Saat peti jenasah sudah sampai di tempat pemakaman, pengantar masih banyak yang mulai beranjak dari muka dojo pusat. Bisa dibayangkan banyaknya masyarakat yang terlibat arak-arakan ini. Terbukti Perguruan dan Kyokushinkai Karate mendapat simpati luas. Pasir penutup lobangpun khusus didatangkan dari pantai Ngliyep. Putih bersih.

 

Hingga kini Makam Kedelapan Karateka ini berdiri di kaki Bukit Panderman, Batu. Makam ini bahkan menjadi lebih terpelihara dan layak setelah beberapa warga dari Surabaya beberapa tahun lalu mengumpulkan dana untuk pembagunannya. Peristiwa ini memang sesuatu yang menyedihkan bagi keluarga yang ditinggalkan dan tragedi bagi Perguruan yang amat dahsyat. Delapan karateka dalam sekejap hilang dan meninggal dunia secara mengenaskan. Perguruan merasa sangat kehilangan, tetapi semuanya ini memberi hikmah tersendiri, yaitu rasa ikatan persaudaraan didalam Perguruan terasa makin tebal dan nyata dan bagi Nardi sendiri merupakan cambuk untuk lebih mawas diri dan bersedia sepenuhnya berkorban demi kelangsungan Perguruan betapa halangan dan ujian tetap menghadang.

Plang jalan menuju ke makam ke-8 Karateka Pahlawan Cinta Kasih, Gg. Karate, diberikan oleh penduduk sekitar untuk menghormati mereka yang gugur.

Cerita Kedelapan Karateka ini yang oleh seorang Suster dari Sang Timur diusulkan untuk diberi gelar ‘Pahlawan Cinta Kasih‘ disetujui Perguruan, cerita ini menyita halaman yang cukup banyak. Hal ini karena kejadian yang memilukan ini jelas membuktikan adanya rasa kebersamaan, kekeluargaan, persahabatan dan toleransi serta sangat besar rasa ikatan antara sesamanya sehingga timbul kepedulian yang tinggi dan berani berkorban diri sampai nyawapun.

Diantara para senior Perguruan selalu diharapkan tetap adanya rasa kebersamaan dalam ikatan yang kuat, bisa tertanam dengan nyata dan menjadi suri teladan koheinya, generasi berikutnya. Sayang, apabila sesuatu yang indah ini disangkal dan diganti dengan sikap egoisme tinggi sehingga rasa kebersamaaan yang menjadi kekuatan dan ketahanan Perguruan, sirna dan musnah. Sungguh sayang.

Sebuah batu marmer besar yang diukir nama kedelapan karateka dan sedikit memori peristiwa yang ditancapkan kuat pada sebuah batu karang, setiap kali dirusak sedikit demi sedikit oleh pengunjung hingga habis. Kita selalu belum bisa menghargai monumemt dengan saling menjaganya. Sayang!