Kembali ke Tanah Air

Atas dasar ketekunan, semangat, tahan uji dan kesungguhan Nardi berlatih di Honbu, maka secara pribadi dan organisasi diberikan Piagam Penghargaan khusus dari Mas Oyama saat sebelum kembali ke Indonesia yang disimpannya hingga kini. Kembali dari Tokyo Nardi memantapkan tingkatan dari Yoshida sensei, yaitu DAN I dari Tokyo Honbu sebagai hasil mengikuti Special Black Belt Course For Instructors.

Akhir tahun 1970 Nardi kembali ke Indonesia dan di Airport Juanda disambut anggota senior dalam jumlah yang cukup besar dan diadakan jamuan kecil di suatu Restoran di Surabaya. Sungguh suatu kebahagiaan berada di Tanah Air lagi diantara Keluarga Perguruan yang sudah mulai menyebar.Mereka semua penuh semangat dan sangat mendambakan Perguruan akan makin meluas setelah kedatangan Nardi kembali di Tanah Air.

Selama Nardi berlatih di Tokyo Honbu, seluruh wewenang menjalankan Perguruan yang mulai tumbuh ini diserahkan kepada Anggota Senior dan berlangsung dengan baik. Tidak lama setelah berada di Tanah Air, Nardi langsung merencanakan satu ‘Latihan Khusus’ bagi Karateka Senior yang bersedia akan menjadi pelatih dan membantu Perguruan.

Latihan khusus ini diadakan selama dua minggu penuh mengingat sebagian besar adalah pelajar yang tidak bisa terlalu lama meninggalkan bangku sekolahnya. Rata- rata waktu itu mereka berusia antara 16 – 18 tahun. Usia yang masih penuh tenaga, semangat dan gairah sedangkan saat Nardi berkesempatan berlatih di Tokyo Honbu telah berusia 31 tahun, usia yang sudah melewati masa remaja dan memasuki masa dewasa penuh. Saat mulai mengenal karate pada usia sekitar 18 tahun, yaitu 1957.

Latihan khusus ini walaupun singkat tetapi padat dan memberikan hasil yang luar biasa. Rata-rata mereka merasa mengalami peningkatan menyeluruh, antara lain; ketahanan phisik, ketrampilan, rasa percaya diri, keyakinannya makin tebal dan menganggap sistim full body contact ini tidak berbahaya asal diikuti latihan dengan metode yang intensif dan benar.

Bukti-bukti yang ditampilkan Nardi di latihan khusus juga di dojo-dojo saat itu memberi rasa percaya diri bahwa sistim nyata dan rasional ini bisa diterima dan dicerna secara logika asal semuanya dilakukan sesuai dengan persyatatan dan gemblengan yang cukup.

Sistim Full Body Contact sejak 1970 mulai secara nyata masuk Indonesia walau sebelumnya dalam latihan-latihan telah diterapkan sistim ini sehingga saat Nardi belum ke Jepang, demonstrasi karate yang diadakan, umpamanya pada HUT I Perguruan 1968 di Gedung Bioskop Mimosa Batu saat itu sudah membuat para penonton kagum karena terlihat dahsyat dan nyata. Anggota sudah melakukan semuanya sesuai dengan arti seni beladiri, bukan sekedar menampilkan keindahan dan show belaka tetapi mempunyai nilai nyata baik ketahanan phisik, mental sipritual maupun tehnik- tehnik dan ketrampilan dalam membela diri.

Pembinaan Mental Karate – Go No Sen segera diubah menjadi Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate Do Indonesia (Kyokushinkai Karate). Ketertiban dan kedisiplinan sudah diberi stresss khusus. Ketepatan waktu karena dimulai pukul 19.00 tepat, disamping tiap undangan untuk siapapun diberi peringatan: ‘Harap datang tepat’, pintupun diinstruksikan untuk ditutup menjelang pukul 19.00 dan siapapun, tamu dari manapun tidak diperkenankan masuk selama Upacara Tradisional HUT Perguruan yang selalu dimulai dengan Lagu Indonesia Raya.

Pintu dibuka setelah upacara ini selesai. Tamu yang tidak mau menunggu, terserah apa yang akan diperbuat. Sejak itu khususnya warga, juga pihak luar sadar, ketertiban dan kedisiplinan tidak bisa ditawar, khususnya tepat waktu.

Cabang makin meluas, masyarakat makin mengenalnya dan mempercayai serta menyukainya. Di Jawa Timur, permintaan untuk membuka cabang Perguruan datang dari banyak kota. Perguruan mulai mempersiapkan diri untuk memperluas geraknya ke Jawa Tengah. Perguruan tahun 1972 baru berkembang secara nyata dan terbanyak berada di Jawa Timur, tetapi gaungnya sudah menembus Nusantara karena gencarnya pemberitaan media cetak saat itu. Nardi mulai menulis artikel Kyokushin Karate di berbagai Media Nasional seperti KOMPAS, SINAR HARAPAN (Sekarang : Suara Pembaruan) dan MERDEKA.

Bulan Juli 1971 Tokyo Honbu meningkatkan Nardi ke DAN II dan akhir 1972 secara khusus Nardi ke Jepang lagi dan tinggal beberapa saat serta mengikuti ujian dan memperoleh tingkatan DAN III, bersamaan dengan diselenggarakannya All Japan Karate Open Tournament.

Nardi merupakan orang pertama dari Indonesia yang memperdalam Aliran Kyokushin Karate pada Tokyo Honbu dibawah Master Oyama sebagai Bapak dan Pendiri Sistim Full Body Contact ini. Nardi merupakan orang pertama yang membawa Kyokushinkai Karate masuk Indonesia. Tahun 1987 dicanangkan melalui brosur dan selebaran publikasi: Tiada Kyokushinkai Karate setua Perguruan ini di Indonesia.